Berita Hindu Indonesia

Media Informasi Terkini Masyarakat Hindu Indonesia

TWITTER

Diberdayakan oleh Blogger.

Mengenal Lebih Dekat Hari Raya Galungan

On 13.37 with 1 comment

Berita Hindu Indonesia - Hari Raya Galungan merupakan hari suci agama Hindu berdasarkan pawukon, diperingati setiap 210 hari (enam bulan) sekali yaitu pada hari Rabu Kliwon  Wuku Dungulan. Galungan juga disebut hari pawedalan Jagat yang mengandung makna untuk pemujaan kehadapan Hyang Widhi Wasa karena telah diciptakan dunia dengan segala isinya. Selain itu Galungan juga merupakan hari kemenangan dharma melawan adharma. Perayaan Galungan diperkirakan sudah ada di Indonesia sejak abad ke XI. Hal ini didasarkan pada: Kidung Panji Malat Rasmi dan Pararaton kerajaan Majapahit. Sementara di India perayaan semacam Galungan ini dinamakan hari raya Sradha Wijaya Dasami.

Di Bali sebelum pemerintahan raja Sri Jaya Kasunu, perayaan Galungan pernah tidak dilaksanakan, oleh karena raja - raja pada zaman itu kurang memperhatikan upacara keagamaan. Hal tersebut mengakibatkan kehidupan rakyat sangat menderita dan umur raja - raja sangat pendek. Kemudian setelah Sri Haji Jayasunu naik tahta dan juga setelah mendapatkan pewarah - warah dari Batari Durga atas permohonannya, maka Galungan kembali dirayakan dengan suatu ketetapan tidak ada Galungan buwung atau tidak ada Galungan Batal.

Adapun runtutan pelaksanaan Galungan diawali dengan :
  1. Tumpek wariga yaitu 25 hari jelang Galungan yang jatuh pada hari Sabtu Kliwon wuku Wariga. Inti dari upacara ini adalah memohonkan keselamataan kepada semua jenis tumbuh - tumbuhan agar dapat hidup dengan sempurna dan dapat memberikan hasil untuk bekal meraayakan Galungan.
  2. Hari Sugihan Jawa, dirayakan 6 hari sebelum Galungan. Perayaan ini bermakna memohonkan kesucian terhadap bhuwana agung (alam semesta).
  3. Hari Sugihan Bali, dirayakan 5 hari jelang Galungan . Perayaan ini mempunyai makna memohonkan kesucian terhadap diri pribadi (bhuwana alit).
  4. Panyekeban, dilaksanakan 3 hari sebelum Galungan . Hari tersebut merupakan awal wuku Dunggulan yang bermakna patut waspada, karena para bhuta kala (Sang Tiga wisesa) mulai turun menggoda kemampuan dan keyakinan manusia dalam wujud Bhuta Galungan. Panyekeban bermakna anyekung jnana sudha nirmala agar terhindar dari godaan - godaannya.
  5. Hari Penyajaan Galungan, dilaksanakan sehari jelang Galungan. Pada hari tersebut dilakukan pemotongan hewan untuk membuat sate, lawar perlengkapan sesajen. 
  6. Hari Raya Galungan. Meupakan puncak upacara peringatan terhadap kemenangan dharma melawan adharma sebagai hari Pawedalan Jagad dengan mempersembahkan upacara sesajen pada tempat - tempat suci dilanjutkan dengan pelaksanaan sembahyang.
  7. Hari Pemaridan Guru. Jatuh pada Sabtu Pon wuku Dungulan. Hari akhir wuku dungulan. Pada hari itu dipergunakan sebagai hari penyucian diri dan dilanjutkan dengan mohon keselamatan ditandai dengan memakan sisa yajna berupa Tumpeng Guru secara bersama - sama sekeluarga.


Next
« Prev Post
Previous
Next Post »
Comments
1 Comments

1 komentar: