Berita Hindu Indonesia

Berita Hindu Indonesia

Media Informasi Terkini Masyarakat Hindu Indonesia

SELAMAT HARI RAYA GALUNGAN LAN KUNINGAN

SELAMAT HARI RAYA GALUNGAN LAN KUNINGAN

BUKU TAMU

Selamat Tahun Baru Imlek

Selamat Tahun Baru Imlek

Donasi Pengunjung

Berita Hindu Indonesia

TWITTER

Diberdayakan oleh Blogger.
KKN STAH  DNJ di Pasraman Purna Lingga, Bekasi

On 23.15 with No comments


Berita Hindu Indonesia - Selama dua hari 21-22 Desember 2013, mahasiswa STAH DNJ semester VII melakukan kegiatan KKN di Pasraman Purna Lingga, Bekasi (Jawa Barat) dengan Tema Pasraman Sadhana. Kepala Pasraman, Ibu Ni Ketut Seni Ariati, S.Pd, MM dan para siswa pasraman menyambut kegiatan yang tidak hanya bermanfaat bagi mahasiswa, tapi juga para siswa pasraman. 



Dalam sambutannya, Kepala Pasrama yang didampingi Ketua panitia KKN yaitu I Gede Wiyadnya meminta siswanya untuk mengikuti kegiatan tersebut dengan baik dan menjadikanya sebagai sebuah pengalaman baru.. Kegiatan dibuka dengan sembahyang bersama, dipimpin oleh Pinandita Made M. Ariana,dilanjutkan dengan beragama acara. Dimulai dengan perkenalan,diselingi juga dengan games menarik untuk mengakrabkan siswa Pasraman dengan mahasiswa.

Selanjutnya adalah dharma tula dengan narasumber I Gusti Bagus Sutarta, diisi dengan diskusi, dengan topik yang mengangkat masalah remaja ; yang dilanjutkan dengan renungan yang dipandu oleh Komang  Agus Setiawan dengan tema Hari Ibu. Renungan ini menekankan agar para mahasiswa Pasraman menyangi Ibu. Esok harinya, pukul 06;00 Wib kegiatan dilanjutkan dengan Yoga Asanas yang dipandu oleh I Made Wahyudi dan Dewa Gede Wahyu. Kemudian Nico Wardana dan beberapa mahasiswa mendampingi para siswa untuk mengenal bahasa Sansekerta.

Sebelum penutupan,bapak I Wayan Kantun Mandara yang sekaligus dosen pengampu mata kuliah KKN menyempatan diri datang dan memberikan sedikit pembekalan kepada para siswa Pasraman.

Sumber: Stah Dharma Nusantara Jakarta
STAHN Mpu Kuturan Singaraja Menuju Kampus Hindu Yang Berdaya Saing

On 14.25 with No comments

Berita Hindu Indonesia - Masyarakat Singaraja dan daerah sekitarnya ingin kuliah di perguruan tinggi agama Hindu negeri? Sekarang tidak perlu lagi ke Denpasar, karena di Singaraja sudah diresmikan Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri (STAHN) Mpu Kuturan dengan ketua Prof. I Made Suweta. STAH Negeri Mpu Kuturan sebagai perguruan tinggi agama yang baru di kota pendidikan Singaraja, namun mendapatkan antusiasme yang sangat luar biasa dari masyarakat.

STAHN Mpu Kuturan Singaraja Menuju Kampus Hindu Yang Berdaya Saing


Ketua STAH Negeri Mpu Kuturan Singaraja I Made Suweta, mengatakan, sebagai salah satu perguruan tinggi agama Hindu STAH Negeri Mpu Kuturan menggelorakan pendidikan karakter sehingga dapat melahirkan generasi masa depan yang tangguh dan berbudi pekerti yang tangguh.

Suweta menambahkan, visinya ke depan adalah membawa STAHN Mpu Kuturan Singaraja menjadi perguruan tinggi yang dapat "mencetak'' sumber daya manusia (SDM) unggul serta dapat melahirkan akademisisi dan ilmuwan yang agamawan, cerdas dan tampilan.

''Bukan hanya itu saja, yang terpenting adalah menjadikan maha siswa STAHN Mpu Kuturan yang berkarater 'Tri Kaya Parisudha', falsafah agama Hindu yang adiluhung dan universal. berfikir yang baik berkata yang baik dan berbuat yang baik,'' paparnya.

Programnya ke depan adalah menjadikan STAHN sebagai perguruan tinggi yang menjungjung tertib pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, dengan tepat mendisiplinkan civitas akademika seta tertib administrasi. ''Itu yang penting menuju kampus Hindu yang bedaya saing,'' demikian Suweta.

Selain itu pihaknya segera akan membangun gedung rektorat yang merupakan bantuan dari Pemerintahan Provinsi Bali. Setelah pembangunan rektorat juga dilanjutkan dengan pembangunan gedung kelas dan gedung dan gedung lainnya karena kami memiliki lahan luas di desa banyuning, papar dia.

Sumber : STAH N Mpu Kuturan Singaraja
Filosofi Banten Saiban (banten Jotan)

On 13.45 with No comments

Berita Hindu Indonesia - Banten Saiban atau sering juga disebut Banten Jotan merupakan sebuah upakara kecil yang dipersembahkan setelah selesai memasak. Banten Saiban atau Banten Jotan sering juga disebut dengan Yadnya Sesa. Banten Saiban merupakan penerapan dari ajaran kesusilaan Hindu, yang menuntut umat untuk selalu bersikap Anersangsya yaitu tidak mementingkan diri sendiri dan Ambeg Para Mertha yaitu mendahulukan kepentingan di luar diri.

Banten Saiban (Yadnya Sesa)
Tujuan dari Banten Saiban yaitu sebagai wujud syukur atas apa yang telah diberikan Ida Sang Hyang Widhi kepada kita dalam bentuk Yadnya. Dalam hal ini Yadnya sebagai sarana untuk menghubungkan diri dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa untuk memperoleh kesucian jiwa.

Adapun landasan dari pelaksanaan Banten Saiban adalah sesuai yang tertuang dalam Bhagavad Gita III.13
"YAJNA SISHTASINAH SANTO, MUCHYANTE SARVA KILBISHAIH, BHUNJATE TE TV AGHAM PAPA, YE PACHANTY ATMA KARANAT"
Artinya:
"Para Penyembah Tuhan Dibebaskan Dari Segala Jenis Dosa Karena Mereka Makan Makanan Yang Dipersembahkan Terlebih Dahulu Untuk Korban Suci (Yadnya). Orang Yang Menyiapkan Makanan Untuk Kenikmatan Indria-Indria Pribadi, Sebenarnya Hanya Makan Dosa Saja".

Ada 5 (lima) tempat penting yang dihaturkan Banten Saiban, sebagai simbol dari Panca Maha Bhuta:
  1. Pertiwi(tanah),biasanya ditempatkan pada pintu keluar rumah atau pintu halaman.
  2. Apah(Air), ditempatkan pada sumur atau tempat air.
  3. Teja(Api), ditempatkan di dapur, pada tempat memasak(tungku) atau kompor.
  4. Bayu, ditempatkan pada beras,bisa juga ditempat nasi.
  5. Akasa, ditempatkan pada tempat sembahyang (pelangkiran,pelinggih, dll).


Menurut Manawa Dharmasastra, tempat melakukan Banten Saiban adalah: Sanggah Pamerajan, Dapur, Jeding (tempat air minum di dapur), Batu Asahan/Talenan, Lesung, dan Sapu. Kelima tempat terakhir (Dapur, Jeding, Batu Asahan/Talenan, Lesung, dan Sapu) disebut sebagai tempat di mana keluarga melakukan Himsa Karma setiap hari dalam proses memasak, karena secara sengaja atau tidak sengaja telah melakukan pembunuhan binatang dan tumbuh-tumbuhan di tempat-tempat tersebut.

Didalam Kitab Manawa Dharma Sastra Adhyaya III 69 dan 75 dinyatakan: Dosa-dosa yang kita lakukan saat mempersiapkan hidangan sehari-hari itu bisa dihapuskan dengan melakukan Banten Saiban (Yadnya Sesa).

Jadi sesungguhnya Banten Saiban bukanlah tradisi yang tidak berdasarkan Sastra (Veda), melainkan Banten Saiban adalah bentuk nyata penerapan Sastra (Veda).
Filosofi Sanggah Kemulan/ Taksu di Bali

On 13.38 with No comments

Berita Hindu Indonesia - Umat Hindu di Bali pada umumnya di setiap pekarangan rumahnya terdapat sebuah Tempat Suci yang biasa disebut dengan Sanggah/Merajan. Di dalam Sanggah/Merajan terdapat beberapa pelinggih, pelinggih pokok/utama dari Sanggah/Merajan adalah pelinggih Sanggah Kamulan.

Sanggah Kemulan/Taksu
Sanggah Kamulan adalah sebuah pelinggih dengan Rong Tiga sebagai wujud penyatuan Sang Hyang Tri Atma dengan sumber dan asal-Nya. Sang Hyang Tri Atma adalah tiga aspek dari atma itu sendiri , yaitu :

  1. Atman merupakan jiwa dari setiap makhluk hidup (Roh).
  2. Siwatman merupakan Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai sumber dari jiwa/roh tersebut.
  3. Paratma/Paramatman merupakan asal segala yang ada di dunia ini dan kepadaNya pula segala yang ada ini akan kembali, dalam Panca Sradha disebut sebagai Brahman atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang bermanifestasi sebagai Tri Murti dalam prabawanya sebagai Pencipta, Pemelihara dan Pelebur.

Sanggah Kamulan sebagai stananya Sang Hyang Tri Atma dimuat dalam Lontar Usana Dewa lembah 4, Yaitu sebagai berikut :
"ring kamulan ngaran ida sang hyang atma, ring kamulan tengen bapa ngaran sang paratma, ring kamulan kiwa ibu ngaran sang sivatma,ring kamulan tengah ngaran raganya, tu brahman dadi meme bapa, meraga sang hyang tuduh….”
Artinya :
”Pada Sanggah Kamulan beliau bergelar Sang Hyang Atma, pada ruang Kamulan kanan ayah, namanya Sang Hyang Paratma. Pada Kamulan kiri Ibu, disebut Sivatma. Pada Kamulan ruang tengah diri-Nya, itu Brahman, menjadi purusa pradana, berwujud Sang Hyang Tuduh (Tuhan yang menakdirkan).”

Begitu juga di dalam Lontar Gong Wesi lembar 4b, dinyatakan sebagai berikut:
"ngaran ira sang atma ring kamulan tengen bapanta, nga, sang paratma, ring kamulan kiwa ibunta, nga, sang sivatma, ring kamulan madya raganta, atma dadi meme bapa ragane mantuk ring dalem dadi sang hyang tunggal, nungalang raga”
Artinya :
“nama beliau sang atma, pada ruang Kamulan kanan bapakmu, yaitu Sang Paratma/Paramatma, pada ruang Kamulan kiri ibumu, yaitu Sang Sivatma, pada ruang Kamulan tengah adalah menyatu menjadi Sang Hyang Tunggal menyatukan wujud”.

Dari kedua kutipan lontar di atas dinyatakan bahwa yang berstana pada Sanggah Kamulan adalah Sang Hyang Tri Atma, yaitu;

  • Paratma/Paramatma
  • Sivatma
  • Sang Atma

Pada hakekatnya Sang Hyang Tri Atma itu tidak lain dari pada Brahman atau Hyang Tunggal/ Hyang Tuduh sebagai pencipta.

Dalam Lontar Purwa Bhumi disebutkan bahwa atma yang telah disucikan yang disebut dengan Dewa Pitara juga distanakan di Sanggah Kamulan, dalam Lontar tersebut dijelaskan sebagai berikut:
"Setelah demikian daksina perwujudan roh suci dituntun pada Sang Hyang Kamulan, kalau bekas roh itu laki naikkan pada ruang kanan, kalau roh suci itu bekas perempuan dinaikkan di sebelah kiri, disana menyatu dengan leluhurnya terdahulu.

Sedangkan di dalam Lontar Tatwa Kapatian disebutkan bahwa Sang Hyang Atma (roh) setelah mengalami proses upacara akan berstana pada Sanggah Kamulan sesuai dengan kadar kesucian atma itu sendiri. Atma yang masih belum suci, yang hanya baru mendapat “tirtha pangentas pendem” atau upacara sementara (ditanam) juga dapat tempat pada Sanggah Kamulan sampai tingkat “Batur Kamulan/Bagian Bawah Kamulan”.

Dari kutipan kedua Lontar diatas, jelas sekali bahwa Sanggah Kemulan sebagai konsep dalam pemujaan Atman para leluhur kita sebagai bentuk penghormatan dan bhakti kepada para leluhur.

Seperti yang telah disebutkan pada Lontar Gong Wesi dan Usana Dewa, maka pengertian Hyang Kamulan sesungguhnya akan lebih tinggi lagi, Pada Hakekatnya yang dipuja pada Sanggah Kamulan adalah Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Baik itu:

  1. Sebagai Hyang Tri Atma dengan Dewanya adalah (Brahma, Wisnu dan Iswara)
  2. Sebagai aspek Ida Sang Hyang Widhi dalam bentuk horizontal yaitu (Siwa, Sada Siwa, Parama Siwa)
  3. Sebagai aspek Ida Sang Hyang Widhi dalam bentuk vertikal (Tri Purusa), sebagai Tri Purusa beliau juga disebut Guru Tiga, maka dari itu secara umum juga disebutkan bahwa Sanggah Kamulan adalah stana Bhatara Guru/Hyang Guru.
  4. Selain itu Sanggah Kamulan juga sebagai penghubung dengan Dewa Pitara (Leluhur atau Kawitan).


Demikianlah uraian mengenai pentingnya Sanggah Kamulan, dan dari hal tersebut saya tidak henti-henti menyarankan untuk rajin-rajinlah bersembahyang di Sanggah Kamulan. Kemanapun kita mau sembahyang, utamakan atau bersembahyanglah terlebih dahulu di Sanggah Kamulan.

Peran Strategis Bhagawadgita dalam Membangun Kerukunan

On 11.03 with No comments


Berita Hindu Indonesia: Bhagawadgita sebagai Pancama Weda mempunyai peran yang strategis apabila didalami, diresapi dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari – hari oleh umat Hindu. Universalitas ajaran yang terkandung di dalam Bhagawadgita seharusnya bisa dan mampu membimbing arah berpikir positif bagi siapapun yang membacanya. Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, memaknai dan mengimplementasikan ajaran yang ada dalam Bhagawadgita ini dapat dikatakan sebagai sumbangsih nyata umat Hindu dalam mewujudkan kekayaan bangsa melalui keberagaman agama, seni dan budaya. Ini semua adalah aset bangsa yang tak ternilai harganya. Di sisi lain, ajaran Bhagawadgita ini juga sangat bermakna untuk menggambarkan betapa kerukunan, kebersamaan dan rasa persaudaraan tanpa batas atau Tat Twam Asi di antara sesama umat Hindu.


Peran Strategis Bhagawadgita dalam Membangun Kerukunan


Memaknai Bhagawadgita ini semestinya tidak berhenti untuk memperkokoh persatuan intern umat Hindu namun juga diwujud-nyatakan dalam kerangka membangun sikap hidup dengan saling menghargai dan menghormati yang pada gilirannya bermuara pada bagaimana terpeliharanya kerukunan yang hakiki dengan saudara-saudara umat beragama lainnya. Dalam hemat saya, meskipun bangsa Indonesia sangat majemuk dengan berhiaskan suku, agama, adat-istiadat dan budaya yang beraneka ragam, namun sebagai satu bangsa dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), haruslah tetap dijaga keutuhannya. Itulah zamrud khatulistiwa yang harus membuat semua orang yang berada di dalamnya selalu bangga sebagai bangsa Indonesia, termasuk umat Hindu.

Dengan memiliki kesadaran seperti ini, umat Hindu bersama-sama dengan umat lainnya, akan terus diajak untuk menjadikan keberagaman sebagai satu nilai yang selama berabad-abad telah menjadi rahmat dan menjadi ruh yang menjiwai kebhinekaan yang tumbuh di atas bumi pertiwi Indonesia. Menegakkan pilar-pilar kerukunan yang teraktualisasikan ke dalam berbagai bentuk, termasuk bagaimana kita bisa hidup berdampingan dengan orang yang berbeda iman sekalipun, menghormati hari-hari besar agama lain, menjamin kebebasan beribadat, tidak mudah terprovokasi untuk diadu domba dengan umat lain adalah cara yang telah diwariskan para leluhur dan pendiri bangsa di masa lalu, bahkan jauh sebelum bangsa ini merdeka. 

Semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang tersemat di kaki burung garuda menjadi satu dari sekian banyak fakta bahwa Indonesia adalah bangsa yang member tempat istimewa untuk tumbuh dan berkembangnya berbagai kekayaan suku, agama, bahasa, seni, budaya, dan adat istiadat. Ini semua bukanlah imajinasi tetapi sebuah fakta yang tak terbantahkan. Bhagawadgita yang diyakini oleh umat Hindu sebagai Pancama Weda atau Weda kelima adalah salah satu kitab suci yang mengandung ajaran filsafat dan etika yang sangat dalam. Beberapa di antara sloka-sloka yang terdapat di dalamnya juga berdimensi universal. Dialog istimewa antara Sri Krisna dengan Arjuna yang terangkum dalam Bhagawadgita telah melampui batas-batas spasial manusia. Dialog itu terasakan hidup melintasi berbagai generasi. Dan Dan umat Hindu membangkitkan kembali nilai-nilai kebenaran universal itu. 

Karena universalitasnya itulah, kitab suci Bhagawadgita tidak saja dibaca secara tekstual tetapi harus tetap dipraktekkan secara kontekstual, sejalan dengan tuntutan zaman. Hanya dengan cara seperti inilah, umat Hindu akan terus dapat beradaptasi dengan tantangan kehidupan namun tidak keluar dari ruh kitab suci. Universalitas Bhagawadgita juga memungkinkan umat Hindu dapat hidup secara inter-religius dengan umat beragama lainnya, sekaligus menginternalisasikannya dalam kehidupan. Dengan mendalami Bhagawadgita secara khusus mengumandangkan kembali ajaran filsafat dan etika Hindu yang akan melahirkan insan-insan yang humanis dan religius.
Memaknai Hari Tumpek Wayang, Yang Patut Dilakukan Umat Hindu Disetiap Hari Maupun Dihari H

On 12.07 with No comments

Berita Hindu Indonesia - Mulai Minggu (25/12/2016) lalu hingga Sabtu (31/12/2016) besok merupakan Wuku Wayang. Tetua zaman dulu sering kali mengidentikkan Tumpek Wayang dengan sesuatu yang tenget.
Anak-anak dilarang berkeliaran ke luar rumah sejak sehari sebelum Tumpek Wayang (penyalukan atau kalapasa).


Yang Lahir Pada Hari Tumpek Wayang
Selain itu, mendengar Wuku Wayang, tidak bisa lepas dari pikiran tentang upacara sapuh leger.
Dikutip dari dharma wacana yang pernah disampaikan almarhum Ida Pedanda Gede Made Gunung saat masih nyeneng (hidup), di dalam lontar Kalatattwa disebutkan, bagi mereka yang lahir dalam lingkaran Wuku Wayang akan menjadi santapan (tetadahan) Kala. Sehingga bagi mereka yang lahir pada wuku itu akan melakukan upacara Penglukatan Sapuh Leger.

Arti dari kata Sapuh Leger, Sapuh artinya bersih.

Leger=ligir=habis.

Sehingga sapuh leger itu berarti membersihkan semua mala sampai ligir (keterangan Jero Mangku Ringgit).
Kutipan dari lontar Sundarigama: Sukra Wage Wayang disebut Kalapasa; masesuwuk daun pandan, berisi kapur sirih nampakdara, boleh di depan pintu masuk pekarangan rumah, segehan ah soroh, api takep, katur teken Durga Bucari.

Saniscara Kliwon (Tumpek Wayang); Puja Wali Bhatara Iswara. Banten Suci maulam itik putih, peras, ajengan, sedah woh, canang raka-raka, rantasan pasucian, katur ring Bhatara Hyang Guru. Bagi umat Hindu yang memiliki Wayang, juga di upacarai pada hari Tumpek Wayang. Bantennya sama dengan yang di atas, boleh ditambahkan lagi sesuai dengan dresta setempat. Untuk Manusia; Sesayut tumpeng agung, prayascita, panyeneng, tataban.
Ketika Para Wanita Bali Memanen Padi Era Tahun 1990

On 19.11 with No comments

Berita Hindu Indonesia - Ketika petani masih menanam Padi Bali, sebutan untuk padi yang berusia panjang, banyak muncul sekaa yg lahir dari sawah. Selain sekaa manyi, ada sekaa makajang, yakni sekumpulan orang yg mengangkut padi dari sawah ke rumah dan dimasukkan lumbung. Ada sekaa mabulung, yakni sekumpulan orang yg membersihkan padi dari rumput liar. Ada sekaa ngabut bulih, yakni sekelompok orang yg mencabut benih padi dan dibawa ke petak2 sawah. Sementara anak2 asyik mencari capung, belalang dan serangga sawah lainnya.


Panen Padi Tahun 1990-an


Budaya agraris ini bukan saja melahirkan sekaa yg begitu aneh untuk ukuran jaman modern, tetapi juga melahirkan kesenian spontan. Ibu2 yg tergabung dalam sekaa mabulung terampil memainkan alu, sementara dari mulutnya keluar tembang yg liriknya spontan.
Ketika padi sedang panen, yg memanen biasanya kaum wanita, kaum lelaki bertugas mengikatnya. Pesta panen padi itu masih pula diwarnai suara seruling dari batang padi yg digemari anak-anak, ada yg sekedar bunyi layaknya terompet.

Orang Bali di masa lalu, ketika kehidupan agraris masih menjadi urat nadi keseharian, belajar menembang di tengah sawah. Inilah arena latihan mereka, alam yg terbuka. Tidak ada yg memburu waktu mereka, karena padi yg dipanen tetap dijemur di tengah sawah.
Budaya agraris sekarang sudah menjadi masa lalu. Industrialisasi masuk ke Bali dan orang mulai dipompa untuk hidup dikejar2 oleh waktu. Semuanya serba terburu2 dan alat2 modern untuk memburu waktu, juga didapat dgn mudah.

Untuk apa menanam Padi Bali yg baru dipanen setelah 5 atau 6 bulan? kelamaan, dan diperkenalkanlah padi usia pendek, hanya 3 bln sudah panen. Tanah tak perlu terlalu digemburkan, beri saja byk pupuk kimia. Pupuk ditebarkan ke sawah. Rumput2 liar juga berkurang, sekaa mabulung lenyap.

Padi tak lagi masuk ke lumbung, Dewi Sri sudah mulai dilupakan. Sekaa makajang? Rasanya sudah tidak ada lagi, yg ada deru tukang ojek dgn motornya yg siap mengangkut karung2 gabah ke penyosohan. Semuanya serba cepat


Sumber : Sejarah Bali