Berita Hindu Indonesia

Berita Hindu Indonesia

Media Informasi Terkini Masyarakat Hindu Indonesia

BUKU TAMU

Selamat Tahun Baru Imlek

Selamat Tahun Baru Imlek

Donasi Pengunjung

Berita Hindu Indonesia

TWITTER

Diberdayakan oleh Blogger.
KKN STAH  DNJ di Pasraman Purna Lingga, Bekasi

On 23.15 with No comments


Berita Hindu Indonesia - Selama dua hari 21-22 Desember 2013, mahasiswa STAH DNJ semester VII melakukan kegiatan KKN di Pasraman Purna Lingga, Bekasi (Jawa Barat) dengan Tema Pasraman Sadhana. Kepala Pasraman, Ibu Ni Ketut Seni Ariati, S.Pd, MM dan para siswa pasraman menyambut kegiatan yang tidak hanya bermanfaat bagi mahasiswa, tapi juga para siswa pasraman. 



Dalam sambutannya, Kepala Pasrama yang didampingi Ketua panitia KKN yaitu I Gede Wiyadnya meminta siswanya untuk mengikuti kegiatan tersebut dengan baik dan menjadikanya sebagai sebuah pengalaman baru.. Kegiatan dibuka dengan sembahyang bersama, dipimpin oleh Pinandita Made M. Ariana,dilanjutkan dengan beragama acara. Dimulai dengan perkenalan,diselingi juga dengan games menarik untuk mengakrabkan siswa Pasraman dengan mahasiswa.

Selanjutnya adalah dharma tula dengan narasumber I Gusti Bagus Sutarta, diisi dengan diskusi, dengan topik yang mengangkat masalah remaja ; yang dilanjutkan dengan renungan yang dipandu oleh Komang  Agus Setiawan dengan tema Hari Ibu. Renungan ini menekankan agar para mahasiswa Pasraman menyangi Ibu. Esok harinya, pukul 06;00 Wib kegiatan dilanjutkan dengan Yoga Asanas yang dipandu oleh I Made Wahyudi dan Dewa Gede Wahyu. Kemudian Nico Wardana dan beberapa mahasiswa mendampingi para siswa untuk mengenal bahasa Sansekerta.

Sebelum penutupan,bapak I Wayan Kantun Mandara yang sekaligus dosen pengampu mata kuliah KKN menyempatan diri datang dan memberikan sedikit pembekalan kepada para siswa Pasraman.

Sumber: Stah Dharma Nusantara Jakarta
STAHN Mpu Kuturan Singaraja Menuju Kampus Hindu Yang Berdaya Saing

On 14.25 with No comments

Berita Hindu Indonesia - Masyarakat Singaraja dan daerah sekitarnya ingin kuliah di perguruan tinggi agama Hindu negeri? Sekarang tidak perlu lagi ke Denpasar, karena di Singaraja sudah diresmikan Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri (STAHN) Mpu Kuturan dengan ketua Prof. I Made Suweta. STAH Negeri Mpu Kuturan sebagai perguruan tinggi agama yang baru di kota pendidikan Singaraja, namun mendapatkan antusiasme yang sangat luar biasa dari masyarakat.

STAHN Mpu Kuturan Singaraja Menuju Kampus Hindu Yang Berdaya Saing


Ketua STAH Negeri Mpu Kuturan Singaraja I Made Suweta, mengatakan, sebagai salah satu perguruan tinggi agama Hindu STAH Negeri Mpu Kuturan menggelorakan pendidikan karakter sehingga dapat melahirkan generasi masa depan yang tangguh dan berbudi pekerti yang tangguh.

Suweta menambahkan, visinya ke depan adalah membawa STAHN Mpu Kuturan Singaraja menjadi perguruan tinggi yang dapat "mencetak'' sumber daya manusia (SDM) unggul serta dapat melahirkan akademisisi dan ilmuwan yang agamawan, cerdas dan tampilan.

''Bukan hanya itu saja, yang terpenting adalah menjadikan maha siswa STAHN Mpu Kuturan yang berkarater 'Tri Kaya Parisudha', falsafah agama Hindu yang adiluhung dan universal. berfikir yang baik berkata yang baik dan berbuat yang baik,'' paparnya.

Programnya ke depan adalah menjadikan STAHN sebagai perguruan tinggi yang menjungjung tertib pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, dengan tepat mendisiplinkan civitas akademika seta tertib administrasi. ''Itu yang penting menuju kampus Hindu yang bedaya saing,'' demikian Suweta.

Selain itu pihaknya segera akan membangun gedung rektorat yang merupakan bantuan dari Pemerintahan Provinsi Bali. Setelah pembangunan rektorat juga dilanjutkan dengan pembangunan gedung kelas dan gedung dan gedung lainnya karena kami memiliki lahan luas di desa banyuning, papar dia.

Sumber : STAH N Mpu Kuturan Singaraja
Filosofi Banten Saiban (banten Jotan)

On 13.45 with No comments

Berita Hindu Indonesia - Banten Saiban atau sering juga disebut Banten Jotan merupakan sebuah upakara kecil yang dipersembahkan setelah selesai memasak. Banten Saiban atau Banten Jotan sering juga disebut dengan Yadnya Sesa. Banten Saiban merupakan penerapan dari ajaran kesusilaan Hindu, yang menuntut umat untuk selalu bersikap Anersangsya yaitu tidak mementingkan diri sendiri dan Ambeg Para Mertha yaitu mendahulukan kepentingan di luar diri.

Banten Saiban (Yadnya Sesa)
Tujuan dari Banten Saiban yaitu sebagai wujud syukur atas apa yang telah diberikan Ida Sang Hyang Widhi kepada kita dalam bentuk Yadnya. Dalam hal ini Yadnya sebagai sarana untuk menghubungkan diri dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa untuk memperoleh kesucian jiwa.

Adapun landasan dari pelaksanaan Banten Saiban adalah sesuai yang tertuang dalam Bhagavad Gita III.13
"YAJNA SISHTASINAH SANTO, MUCHYANTE SARVA KILBISHAIH, BHUNJATE TE TV AGHAM PAPA, YE PACHANTY ATMA KARANAT"
Artinya:
"Para Penyembah Tuhan Dibebaskan Dari Segala Jenis Dosa Karena Mereka Makan Makanan Yang Dipersembahkan Terlebih Dahulu Untuk Korban Suci (Yadnya). Orang Yang Menyiapkan Makanan Untuk Kenikmatan Indria-Indria Pribadi, Sebenarnya Hanya Makan Dosa Saja".

Ada 5 (lima) tempat penting yang dihaturkan Banten Saiban, sebagai simbol dari Panca Maha Bhuta:
  1. Pertiwi(tanah),biasanya ditempatkan pada pintu keluar rumah atau pintu halaman.
  2. Apah(Air), ditempatkan pada sumur atau tempat air.
  3. Teja(Api), ditempatkan di dapur, pada tempat memasak(tungku) atau kompor.
  4. Bayu, ditempatkan pada beras,bisa juga ditempat nasi.
  5. Akasa, ditempatkan pada tempat sembahyang (pelangkiran,pelinggih, dll).


Menurut Manawa Dharmasastra, tempat melakukan Banten Saiban adalah: Sanggah Pamerajan, Dapur, Jeding (tempat air minum di dapur), Batu Asahan/Talenan, Lesung, dan Sapu. Kelima tempat terakhir (Dapur, Jeding, Batu Asahan/Talenan, Lesung, dan Sapu) disebut sebagai tempat di mana keluarga melakukan Himsa Karma setiap hari dalam proses memasak, karena secara sengaja atau tidak sengaja telah melakukan pembunuhan binatang dan tumbuh-tumbuhan di tempat-tempat tersebut.

Didalam Kitab Manawa Dharma Sastra Adhyaya III 69 dan 75 dinyatakan: Dosa-dosa yang kita lakukan saat mempersiapkan hidangan sehari-hari itu bisa dihapuskan dengan melakukan Banten Saiban (Yadnya Sesa).

Jadi sesungguhnya Banten Saiban bukanlah tradisi yang tidak berdasarkan Sastra (Veda), melainkan Banten Saiban adalah bentuk nyata penerapan Sastra (Veda).
Filosofi Sanggah Kemulan/ Taksu di Bali

On 13.38 with No comments

Berita Hindu Indonesia - Umat Hindu di Bali pada umumnya di setiap pekarangan rumahnya terdapat sebuah Tempat Suci yang biasa disebut dengan Sanggah/Merajan. Di dalam Sanggah/Merajan terdapat beberapa pelinggih, pelinggih pokok/utama dari Sanggah/Merajan adalah pelinggih Sanggah Kamulan.

Sanggah Kemulan/Taksu
Sanggah Kamulan adalah sebuah pelinggih dengan Rong Tiga sebagai wujud penyatuan Sang Hyang Tri Atma dengan sumber dan asal-Nya. Sang Hyang Tri Atma adalah tiga aspek dari atma itu sendiri , yaitu :

  1. Atman merupakan jiwa dari setiap makhluk hidup (Roh).
  2. Siwatman merupakan Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai sumber dari jiwa/roh tersebut.
  3. Paratma/Paramatman merupakan asal segala yang ada di dunia ini dan kepadaNya pula segala yang ada ini akan kembali, dalam Panca Sradha disebut sebagai Brahman atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang bermanifestasi sebagai Tri Murti dalam prabawanya sebagai Pencipta, Pemelihara dan Pelebur.

Sanggah Kamulan sebagai stananya Sang Hyang Tri Atma dimuat dalam Lontar Usana Dewa lembah 4, Yaitu sebagai berikut :
"ring kamulan ngaran ida sang hyang atma, ring kamulan tengen bapa ngaran sang paratma, ring kamulan kiwa ibu ngaran sang sivatma,ring kamulan tengah ngaran raganya, tu brahman dadi meme bapa, meraga sang hyang tuduh….”
Artinya :
”Pada Sanggah Kamulan beliau bergelar Sang Hyang Atma, pada ruang Kamulan kanan ayah, namanya Sang Hyang Paratma. Pada Kamulan kiri Ibu, disebut Sivatma. Pada Kamulan ruang tengah diri-Nya, itu Brahman, menjadi purusa pradana, berwujud Sang Hyang Tuduh (Tuhan yang menakdirkan).”

Begitu juga di dalam Lontar Gong Wesi lembar 4b, dinyatakan sebagai berikut:
"ngaran ira sang atma ring kamulan tengen bapanta, nga, sang paratma, ring kamulan kiwa ibunta, nga, sang sivatma, ring kamulan madya raganta, atma dadi meme bapa ragane mantuk ring dalem dadi sang hyang tunggal, nungalang raga”
Artinya :
“nama beliau sang atma, pada ruang Kamulan kanan bapakmu, yaitu Sang Paratma/Paramatma, pada ruang Kamulan kiri ibumu, yaitu Sang Sivatma, pada ruang Kamulan tengah adalah menyatu menjadi Sang Hyang Tunggal menyatukan wujud”.

Dari kedua kutipan lontar di atas dinyatakan bahwa yang berstana pada Sanggah Kamulan adalah Sang Hyang Tri Atma, yaitu;

  • Paratma/Paramatma
  • Sivatma
  • Sang Atma

Pada hakekatnya Sang Hyang Tri Atma itu tidak lain dari pada Brahman atau Hyang Tunggal/ Hyang Tuduh sebagai pencipta.

Dalam Lontar Purwa Bhumi disebutkan bahwa atma yang telah disucikan yang disebut dengan Dewa Pitara juga distanakan di Sanggah Kamulan, dalam Lontar tersebut dijelaskan sebagai berikut:
"Setelah demikian daksina perwujudan roh suci dituntun pada Sang Hyang Kamulan, kalau bekas roh itu laki naikkan pada ruang kanan, kalau roh suci itu bekas perempuan dinaikkan di sebelah kiri, disana menyatu dengan leluhurnya terdahulu.

Sedangkan di dalam Lontar Tatwa Kapatian disebutkan bahwa Sang Hyang Atma (roh) setelah mengalami proses upacara akan berstana pada Sanggah Kamulan sesuai dengan kadar kesucian atma itu sendiri. Atma yang masih belum suci, yang hanya baru mendapat “tirtha pangentas pendem” atau upacara sementara (ditanam) juga dapat tempat pada Sanggah Kamulan sampai tingkat “Batur Kamulan/Bagian Bawah Kamulan”.

Dari kutipan kedua Lontar diatas, jelas sekali bahwa Sanggah Kemulan sebagai konsep dalam pemujaan Atman para leluhur kita sebagai bentuk penghormatan dan bhakti kepada para leluhur.

Seperti yang telah disebutkan pada Lontar Gong Wesi dan Usana Dewa, maka pengertian Hyang Kamulan sesungguhnya akan lebih tinggi lagi, Pada Hakekatnya yang dipuja pada Sanggah Kamulan adalah Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Baik itu:

  1. Sebagai Hyang Tri Atma dengan Dewanya adalah (Brahma, Wisnu dan Iswara)
  2. Sebagai aspek Ida Sang Hyang Widhi dalam bentuk horizontal yaitu (Siwa, Sada Siwa, Parama Siwa)
  3. Sebagai aspek Ida Sang Hyang Widhi dalam bentuk vertikal (Tri Purusa), sebagai Tri Purusa beliau juga disebut Guru Tiga, maka dari itu secara umum juga disebutkan bahwa Sanggah Kamulan adalah stana Bhatara Guru/Hyang Guru.
  4. Selain itu Sanggah Kamulan juga sebagai penghubung dengan Dewa Pitara (Leluhur atau Kawitan).


Demikianlah uraian mengenai pentingnya Sanggah Kamulan, dan dari hal tersebut saya tidak henti-henti menyarankan untuk rajin-rajinlah bersembahyang di Sanggah Kamulan. Kemanapun kita mau sembahyang, utamakan atau bersembahyanglah terlebih dahulu di Sanggah Kamulan.

Peran Strategis Bhagawadgita dalam Membangun Kerukunan

On 11.03 with No comments


Berita Hindu Indonesia: Bhagawadgita sebagai Pancama Weda mempunyai peran yang strategis apabila didalami, diresapi dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari – hari oleh umat Hindu. Universalitas ajaran yang terkandung di dalam Bhagawadgita seharusnya bisa dan mampu membimbing arah berpikir positif bagi siapapun yang membacanya. Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, memaknai dan mengimplementasikan ajaran yang ada dalam Bhagawadgita ini dapat dikatakan sebagai sumbangsih nyata umat Hindu dalam mewujudkan kekayaan bangsa melalui keberagaman agama, seni dan budaya. Ini semua adalah aset bangsa yang tak ternilai harganya. Di sisi lain, ajaran Bhagawadgita ini juga sangat bermakna untuk menggambarkan betapa kerukunan, kebersamaan dan rasa persaudaraan tanpa batas atau Tat Twam Asi di antara sesama umat Hindu.


Peran Strategis Bhagawadgita dalam Membangun Kerukunan


Memaknai Bhagawadgita ini semestinya tidak berhenti untuk memperkokoh persatuan intern umat Hindu namun juga diwujud-nyatakan dalam kerangka membangun sikap hidup dengan saling menghargai dan menghormati yang pada gilirannya bermuara pada bagaimana terpeliharanya kerukunan yang hakiki dengan saudara-saudara umat beragama lainnya. Dalam hemat saya, meskipun bangsa Indonesia sangat majemuk dengan berhiaskan suku, agama, adat-istiadat dan budaya yang beraneka ragam, namun sebagai satu bangsa dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), haruslah tetap dijaga keutuhannya. Itulah zamrud khatulistiwa yang harus membuat semua orang yang berada di dalamnya selalu bangga sebagai bangsa Indonesia, termasuk umat Hindu.

Dengan memiliki kesadaran seperti ini, umat Hindu bersama-sama dengan umat lainnya, akan terus diajak untuk menjadikan keberagaman sebagai satu nilai yang selama berabad-abad telah menjadi rahmat dan menjadi ruh yang menjiwai kebhinekaan yang tumbuh di atas bumi pertiwi Indonesia. Menegakkan pilar-pilar kerukunan yang teraktualisasikan ke dalam berbagai bentuk, termasuk bagaimana kita bisa hidup berdampingan dengan orang yang berbeda iman sekalipun, menghormati hari-hari besar agama lain, menjamin kebebasan beribadat, tidak mudah terprovokasi untuk diadu domba dengan umat lain adalah cara yang telah diwariskan para leluhur dan pendiri bangsa di masa lalu, bahkan jauh sebelum bangsa ini merdeka. 

Semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang tersemat di kaki burung garuda menjadi satu dari sekian banyak fakta bahwa Indonesia adalah bangsa yang member tempat istimewa untuk tumbuh dan berkembangnya berbagai kekayaan suku, agama, bahasa, seni, budaya, dan adat istiadat. Ini semua bukanlah imajinasi tetapi sebuah fakta yang tak terbantahkan. Bhagawadgita yang diyakini oleh umat Hindu sebagai Pancama Weda atau Weda kelima adalah salah satu kitab suci yang mengandung ajaran filsafat dan etika yang sangat dalam. Beberapa di antara sloka-sloka yang terdapat di dalamnya juga berdimensi universal. Dialog istimewa antara Sri Krisna dengan Arjuna yang terangkum dalam Bhagawadgita telah melampui batas-batas spasial manusia. Dialog itu terasakan hidup melintasi berbagai generasi. Dan Dan umat Hindu membangkitkan kembali nilai-nilai kebenaran universal itu. 

Karena universalitasnya itulah, kitab suci Bhagawadgita tidak saja dibaca secara tekstual tetapi harus tetap dipraktekkan secara kontekstual, sejalan dengan tuntutan zaman. Hanya dengan cara seperti inilah, umat Hindu akan terus dapat beradaptasi dengan tantangan kehidupan namun tidak keluar dari ruh kitab suci. Universalitas Bhagawadgita juga memungkinkan umat Hindu dapat hidup secara inter-religius dengan umat beragama lainnya, sekaligus menginternalisasikannya dalam kehidupan. Dengan mendalami Bhagawadgita secara khusus mengumandangkan kembali ajaran filsafat dan etika Hindu yang akan melahirkan insan-insan yang humanis dan religius.
Memaknai Hari Tumpek Wayang, Yang Patut Dilakukan Umat Hindu Disetiap Hari Maupun Dihari H

On 12.07 with No comments

Berita Hindu Indonesia - Mulai Minggu (25/12/2016) lalu hingga Sabtu (31/12/2016) besok merupakan Wuku Wayang. Tetua zaman dulu sering kali mengidentikkan Tumpek Wayang dengan sesuatu yang tenget.
Anak-anak dilarang berkeliaran ke luar rumah sejak sehari sebelum Tumpek Wayang (penyalukan atau kalapasa).


Yang Lahir Pada Hari Tumpek Wayang
Selain itu, mendengar Wuku Wayang, tidak bisa lepas dari pikiran tentang upacara sapuh leger.
Dikutip dari dharma wacana yang pernah disampaikan almarhum Ida Pedanda Gede Made Gunung saat masih nyeneng (hidup), di dalam lontar Kalatattwa disebutkan, bagi mereka yang lahir dalam lingkaran Wuku Wayang akan menjadi santapan (tetadahan) Kala. Sehingga bagi mereka yang lahir pada wuku itu akan melakukan upacara Penglukatan Sapuh Leger.

Arti dari kata Sapuh Leger, Sapuh artinya bersih.

Leger=ligir=habis.

Sehingga sapuh leger itu berarti membersihkan semua mala sampai ligir (keterangan Jero Mangku Ringgit).
Kutipan dari lontar Sundarigama: Sukra Wage Wayang disebut Kalapasa; masesuwuk daun pandan, berisi kapur sirih nampakdara, boleh di depan pintu masuk pekarangan rumah, segehan ah soroh, api takep, katur teken Durga Bucari.

Saniscara Kliwon (Tumpek Wayang); Puja Wali Bhatara Iswara. Banten Suci maulam itik putih, peras, ajengan, sedah woh, canang raka-raka, rantasan pasucian, katur ring Bhatara Hyang Guru. Bagi umat Hindu yang memiliki Wayang, juga di upacarai pada hari Tumpek Wayang. Bantennya sama dengan yang di atas, boleh ditambahkan lagi sesuai dengan dresta setempat. Untuk Manusia; Sesayut tumpeng agung, prayascita, panyeneng, tataban.
Ketika Para Wanita Bali Memanen Padi Era Tahun 1990

On 19.11 with No comments

Berita Hindu Indonesia - Ketika petani masih menanam Padi Bali, sebutan untuk padi yang berusia panjang, banyak muncul sekaa yg lahir dari sawah. Selain sekaa manyi, ada sekaa makajang, yakni sekumpulan orang yg mengangkut padi dari sawah ke rumah dan dimasukkan lumbung. Ada sekaa mabulung, yakni sekumpulan orang yg membersihkan padi dari rumput liar. Ada sekaa ngabut bulih, yakni sekelompok orang yg mencabut benih padi dan dibawa ke petak2 sawah. Sementara anak2 asyik mencari capung, belalang dan serangga sawah lainnya.


Panen Padi Tahun 1990-an


Budaya agraris ini bukan saja melahirkan sekaa yg begitu aneh untuk ukuran jaman modern, tetapi juga melahirkan kesenian spontan. Ibu2 yg tergabung dalam sekaa mabulung terampil memainkan alu, sementara dari mulutnya keluar tembang yg liriknya spontan.
Ketika padi sedang panen, yg memanen biasanya kaum wanita, kaum lelaki bertugas mengikatnya. Pesta panen padi itu masih pula diwarnai suara seruling dari batang padi yg digemari anak-anak, ada yg sekedar bunyi layaknya terompet.

Orang Bali di masa lalu, ketika kehidupan agraris masih menjadi urat nadi keseharian, belajar menembang di tengah sawah. Inilah arena latihan mereka, alam yg terbuka. Tidak ada yg memburu waktu mereka, karena padi yg dipanen tetap dijemur di tengah sawah.
Budaya agraris sekarang sudah menjadi masa lalu. Industrialisasi masuk ke Bali dan orang mulai dipompa untuk hidup dikejar2 oleh waktu. Semuanya serba terburu2 dan alat2 modern untuk memburu waktu, juga didapat dgn mudah.

Untuk apa menanam Padi Bali yg baru dipanen setelah 5 atau 6 bulan? kelamaan, dan diperkenalkanlah padi usia pendek, hanya 3 bln sudah panen. Tanah tak perlu terlalu digemburkan, beri saja byk pupuk kimia. Pupuk ditebarkan ke sawah. Rumput2 liar juga berkurang, sekaa mabulung lenyap.

Padi tak lagi masuk ke lumbung, Dewi Sri sudah mulai dilupakan. Sekaa makajang? Rasanya sudah tidak ada lagi, yg ada deru tukang ojek dgn motornya yg siap mengangkut karung2 gabah ke penyosohan. Semuanya serba cepat


Sumber : Sejarah Bali
Tri Kerangka Dasar Agama Hindu

On 09.52 with No comments

Berita Hindu Indonesia - Ajaran agama Hindu dibangun dalam tiga kerangka dasar, yaitu tattwa, susila, dan acara agama. Ketiganya adalah satu kesatuan integral yang tak terpisahkan serta mendasari tindak keagamaan umat Hindu. Tattwa adalah aspek pengetahuan agama atau ajaran-ajaran agama yang harus dimengerti dan dipahami oleh masyarakat terhadap aktivitas keagamaan yang dilaksanakan. Susila adalah aspek pembentukan sikap keagamaan yang menuju pada sikap dan perilaku yang baik sehingga manusia memiliki kebajikan dan kebijaksanaan, wiweka jnana.Sementara itu aspek acara adalah tata cara pelaksanaan ajaran agama yang diwujudkan dalam tradisi upacara sebagai wujud simbolis komunikasi manusia dengan Tuhannya. Acara agamaadalah wujud bhakti kehadapan Ida Sang Hyang Widdhi Wasa dan seluruh manifestasi-Nya. Pada dasarnya acara agama dibagi menjadi dua, yaitu upacara dan upakara. Upacara berkaitan dengan tata cara ritual, seperti tata cara sembahyang, hari-hari suci keagamaan (wariga), dan rangkaian upacara (eed). Sebaliknya, upakara adalah sarana yang dipersembahkan dalam upacara keagamaan.

Ilustrasi
Dalam fenomena keberagamaan Hindu di Bali, acara agama tampaknya lebih menonjol dibandingkan dengan aspek lainnya. Acara agama yang seringkali juga disebut upacara atau ritual keagamaan merupakan pengejawantahan dan tattwa dan susila agama Hindu. Acaraagama meliputi keseluruhan dari aspek persembahan dan bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa/Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang disebut yadnya. Pada dasarnya yadnya dalam agama Hindu dapat dibagi menjadi dua, yakni nitya karma dan naimittika karma. Nitya yadnya adalahyadnya yang dilaksanakan sehari-hari, misalnya yadnya sesa atau mesaiban. Sebaliknya,naimittika yadnya adalah yadnya yang dilaksanakan secara berkala atau pada waktu-waktu tertentu, misalnya pada saat piodalan, rerahinan, dan hari raya keagamaan Hindu lainnya (Tim, 2005). Akan tetapi sejauh ini masih banyak pihak yang meragukan bahwa acara agamayang tampak dominan di Bali, adalah bertentangan dengan isi kitab suci Weda. Oleh karena itu dalam makalah ini akan diuraikan tentang acara agama Hindu yang pelaksanannya terformulasikan dalam bentuk Panca Mahayadnya.

Memahami Kerangka Dasar Agama Hindu

Agama Hindu yang diwarisi di Bali sekarang merupakan kelanjutan dari mashab Saivasiddhantayang mulanya berkembang di India Selatan. Akan tetapi perkembangannya lebih lanjut beradaptasi dengan kebudayaan setempat dan membentuk kebudayaan baru. Kearifan lokal Indonesia menjadi kekuatan filterisasi yang memiliki kemampuan untuk menyeleksi pengaruh segala jenis kebudayaan dari India. Hal ini menjadikan kebudayaan asli daerah tampak eksis mendukung pelaksanaan agama Hindu yang datang belakangan. Artinya, agama Hindu yang datang dari India berinteraksi dengan kebudayaan asli daerah sehingga menjadikan agama Hindu di Indonesia mempunyai warna yang berbeda dengan induknya, India. Seperti dikemukakan oleh Bosch (Ayatrohaedi, 1986:72) bahwa unsur kebudayaan India sebaiknya dianggap sebagai zat penyubur yang menumbuhkan kebudayaan Hindu di Indonesia, yang tetap memperlihatkan kekhasannya. Kearifan lokal (local genius) inilah yang sesungguhnya menjadikan agama Hindu Indonesia, khususnya di Bali, tampak berbeda dengan pelaksanaan Agama Hindu di India.

Mashab Saiwasidhanta mendasarkan filosofinya pada Siwatattwa. Siwatattwa mengajarkan bahwa Tuhan yang tertinggi adalah Bhatara Siwa. Bhatara Siwa adalah asal dan kembalinya segala yang ada. Beliau adalah Brahman bagi Upanisad, Mahawisnu bagi Waisnawa, Khrisna bagiBhagavadgita, dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa bagi umat Hindu di Indonesia. DalamJnanasidhanta dikatakan bahwa Bhatara Siwa yang esa dipuja dalam yang banyak dan yang banyak dalam yang esa (ekatva anekatva svalaksana Bhatara). Sejalan dengan ini, Vedamengatakan “ekam sat viprah bahuda vadanti”, Engkau yang tunggal dipuja dalam banyak nama. Jadi, secara esensial tattwa yang dianut oleh umat Hindu di Bali tiadalah berbeda dengan konsepsi ketuhanan dalam Veda. Artinya, Agama Hindu yang selama ini diwarisi di Bali tidak bertentangan dengan ajaran Veda sebagai sumber tertinggi Agama Hindu.



Ilustrasi

Tattwa

Tattwa berasal dari kata tat dan twa. Tat berarti ”itu” dan twa juga berarti ”itu”. Jadi secara leksikal kata tattwa berarti ”ke-itu-an”. Dalam makna yang lebih mendalam kata tattwabermakna ”kebenaranlah itu”. Kerapkali tattwa disamakan dengan filsafat ketuhanan atau teologi. Di satu sisi, tattwa adalah filsafat tentang Tuhan, tetapi tattwa memiliki dimensi lain yang tidak didapatkan dalam filsafat, yaitu keyakinan. Filsafat merupakan pergumulan pemikiran yang tidak pernah final, tetapi tattwa adalah pemikiran filsafat yang akhirnya harus diyakini kebenarannya. Sebagai contoh, Wisnu disimbolkan dengan warna hitam, berada di utara, dan membawa senjata cakra. Ini adalah tattwa yang harus diyakini kebenarannya, sebaliknya filsafat boleh mempertanyakan kebenaran dari pernyataan tersebut. Oleh sebab itu dalam terminologi Hindu, kata tattwa tidak dapat didefinisikan sebagai filsafat secara an sich,tetapi lebih tepat didefinisikan sebagai dasar keyakinan Agama Hindu. Sebagai dasar keyakinan Hindu, tattwa mencakup lima hal yang disebut Panca Sradha (Widhi tattwa, Atma tattwa, Karmaphala tattwa, Punarbhawa tattwa, dan Moksa tattwa).

Susila

Sementara itu susila berasal dari kata ”su” dan ”sila”. Su berarti baik, dan sila berarti dasar, perilaku atau tindakan. Secara umum susila diartikan sama dengan kata ”etika”. Definisi ini kurang lebih tepat karena susila bukan hanya berbicara mengenai ajaran moral atau cara berperilaku yang baik, tetapi juga berbicara mengenai landasan filosofis yang mendasari suatu perbuatan baik harus dilakukan. Bandingkan dengan kata ”etika” yang berarti filsafat moral. Sebaliknya, kata ”moral” berarti ajaran tentang tingkah laku yang baik. Perbuatan ”membunuh” misalnya, secara moral tindakan membunuh dilarang untuk dilakukan, tetapi ”etika” memberikan landasan bahwa tidak semua tindakan membunuh adalah dilarang. Tindakan membunuh yang dilarang adalah ketika didasari oleh rasa kebencian dan kemarahan, sebaliknya membunuh bagi seorang tentara dalam sebuah peperangan dibenarkan secara etika.

Sampai di sini jelas bahwa antara ”moral” dan ”etika” dibedakan secara konseptual. Moral selalu menjadi bagian dari etika, tetapi etika belum tentu masalah moral karena etika berbicara tentang ”perilaku baik” yang harus dilakukan manusia dalam aspek-aspek kehidupan yang lebih luas. Moral adalah etika-etika khusus yang berlaku dalam skup tertentu. Etika Hindu, etika Islam, etika Kristen, etika Bali, etika Jawa, etika bisnis dan seterusnya merupakan ajaran moral yang dianjurkan oleh masing-masing institusi tertentu, baik institusi agama maupun institusi sosial. Suatu tindakan yang dianggap bermoral di suatu komunitas, belum tentu bermoral di komunitas yang lain. Merujuk pada perbedaan definisi di atas, terminologi kata ”susila” lebih tepat diterjemahkan dalam kata etika karena memberikan landasan suatu perbuatan. Perintah Sri Khrisna kepada Arjuna untuk membunuh Guru-gurunya secara moral tidak dapat dibenarkan karena tindakan membunuh terlarang dilakukan. Akan tetapi secara etika hal itu dibenarkan karena melenyapkan kejahatan adalah kewajiban dari seorang ksatrya.

Upacara

Sementara itu kata acara berasal dari bahasa Sankerta yang menurut Sanskrit- English Dictionary karangan Sir Moonier Williems (Sudharma, 2000:1) bahwa kata ”acara” antara lain diartikan sebagai berikut.

Tingkah laku atau perbuatan yang baik;
Adat istiadat;
Tradisi atau kebiasaan yang merupakan tingkah laku manusia baik perseorangan maupun kelompok masyarakat yang didasarkan atas kaidah-kaidah hukum yang ajeg.

Dalam bahasa Kawi mempunyai tiga pengertian sesuai dengan sistem penulisannya (ācāra, acāra, dan acara). Kata ācāra berarti kelakuan, tindak-tanduk, kelakuan baik, adat, praktik, dan peraturan yang telah mantap. Kata acāra bermakna pergi bersama atau teman. Dapat dibandingkan dengan kata cāraka yang bermakna teman atau ia yang pergi bersama. Dalam bahasa Bali diterjemahkan dengan kata parēkan yang bermakna ia yang selalu dekat. Sedangkan kata acara berarti tidak berjalan. Bandingkan dengan kata carācara yang berarti tumbuh-tumbuhan, dengan makna yang tidak dapat berjalan. Dari ketiga makna tersebut, makna yang digunakan dalam pengertian Acara Agama Hindu ialah makna yang pertama (ācāra), yang memiliki pengertian : (1) Kelakuan, tindak-tanduk, atau kelakuan baik dalam pelaksanaan agama Hindu; (2) adat atau suatu praktik dalam pelaksanaan agama Hindu; dan (3) peraturan yang telah mantap dalam pelaksanaan Agama Hindu.

Pengertian dari kata acara juga ditemukan dalam kitab Sarasamuccaya (177), sebagai berikut:

”nihan pajara mami, phala sang hyang weda inaji, kapujan sang hyang siwagni, rapwan wruhing mantra, yajnangga widdhiwaidhanadi, dening dana hinanaken, bhuktin danakena, yapwan dening anakbi, dadyaning alingganadi krida mahaputri-santana, kuneng phala sang hyang aji kinawruhan, haywaning gila ngaraning swabhawa, ācāra ngaraning prawrtti kawaran ring aji”

Artinya:

Inilah yang hendak hamba beritahukan, gunanya kitab suci Weda itu dipelajari, Siwagni patut dipuja, patut diketahui mantra serta bagian-bagian dari korban kebaktian, widhi-widhana dan lain-lainnya. Adapun gunanya harta kekayaan disediakan adalah untuk dinikmati dan disederhanakan, akan gina wanita adalah untuk menjadi istri dan melanjutkan keturunan baik pria dan wanita, guna sastra suci adalah untuk diketahui dan diamalkan, ācāra adalah tindakan yang sesuai dengan ajaran agama.
Ilustrasi

Dari ketiga pengertian Tri Kerangka Agama Hindu di atas semakin jelas bahwa ketiganya memang tidak dapat dipisahkan. Tattwa menjadi landasan teologis dari semua bentuk pelaksanaan ajaran agama Hindu. Susila menjadi landasan etis dari semua perilaku umat Hindu dalam hubungannya dengan Tuhan, sesama manusia, dan dengan alam lingkungannya. Sedangkan ācāra menjadi landasan prilaku keagamaan, tradisi, dan kebudayaan religius. Ācāramengimplementasikan tattwa dan susila dalam wujud tata keberagamaan yang lebih riil dalam dimensi kebudayaan. Tanpa adanya ācāra, agama hanyalah seperangkat ajaran yang tidak akan nampak dalam dunia fenomenal. Secara sosio-antropologis, ācāra menjadi identitas suatu agama karena ia melembaga dalam sebuah sistem tindakan. Sebaliknya, tattwa (ketuhanan) sangat abstrak sifatnya, demikian halnya dengan susila yang tidak hanya dibentuk oleh agama, melainkan juga oleh tradisi, adat, kebiasaan, tata nilai dan norma-norma sosial.


Sumber : wayan fais