Berita Hindu Indonesia

Berita Hindu Indonesia

Media Informasi Terkini Masyarakat Hindu Indonesia

TWITTER

Diberdayakan oleh Blogger.
Ratu Gede Mecaling Dalem Nusa Penida

On 10.48 with No comments

Berita Hindu Indonesia - Nusa Penida sebenarnya berasal dari kata, nusa yang artinya pulau, sedangkan kata penida berasal dari kata Pandita, atau pendeta atau brahmana utama. Sebenarnya pandita yang dimaksud adalah Hyang Pasupati atau Bhatara Siwa sebagai raja pandita seluruh jagat.


Bhatara Siwa diyakini turun menuju wilayah tersebut pada tahun saka 50, dan berstana di Gunung Mundhi, disertai permaisuri beliau Dewi Uma. Beliau kemudian menjelma menjadi manusia sakti tanpa tanding, tahu akan segala macam ilmu sastra dan mahir dalam segala macam kepintaran. Singkat katanya beliau menjadi seorang pendeta besar bernama Dukuh Jumpungan. Inilah awal dimana pulau pendeta atau Nusa Pandita yang lama kelamaan menjadi Nusa Penida.

Sedangkan istri dari Dukuh Jumpungan yang merupakan penjelmaan Dewi Uma bernama Ida Bhatari Ni Puri. Pada tahun saka 90, Bhatari Ni Puri melahirkan putra perkasa bernama I Merja. Setelah dewasa, I Merja sama saktinya dengan ibu dan ayahnya. Sama-sama memiliki kedigjayaan yang begitu besar dan gemar akan tapa. Ketika dewasa I Merja menikah dengan seorang gadis dari Loka bernama Ni Luna yang turun ke dunia pada tahun saka 97.

Ni Luna juga senang akan tapa brata. Tempat dimana beliau melakukan yoga kini disebut sebagai Pura Batu Banglas. Dari pernikahan mereka, maka lahirlah seorang putra yang sakti bernama I Renggan. Beliau lahir pada tahun saka 150 dan beliau menikah dengan Ni Merahim yang lahir pada tahun saka 160.

I Renggan yang amat sakti gemar akan tapa memiliki perahu anugrah dari Dukuh Jumpungan. Dengan perahu itulah I Renggan menabrak pulau Nusa hingga terbelah menjadi dua bagian. Yang besar bernama Nusa Gede dan yang kecil bernama Nusa Cenik. Nah sekarang beliau ingin menguji perahu (p.9) dan saktinya kepada rakyat Bali, maka berlayarlah I Renggan Padangbai dan di sana beliau banyak membuat ketakutan rakyat Bali.

Anak buah I Renggan banyak menteror masyarakat di sana dan membawa wabah berupa hama dan banyak menyerang tanaman. Hingga berlarilah masyarakat Bali menuju tempat junjungan mereka, yakni Gunung Agung. Ida Bhatara Hyang Tohlangkir tak berkenan dengan kejadian ini. Kemudian beliau melumpuhkan penyakit yang dibawa oleh I Renggan.

I Renggan yang menikah dengan Ni Merahim memiliki dua orang anak, yang putra bernama I Gede Mecaling dan perempuan bernama Ni Tole, lahir pada tahun saka 180. I Gede Mecaling menikah Sang Ayu Mas Rajeg Bhumi.

Pada tahun 250 saka, Gede Mecaling melakukan tapa di Peed dan pengastawan Ida ditujukan kepada Bhatara Siwa.

Karena saking keras tapa dan brata yang dilakukan oleh Gede Mecaling, maka Bhatara Siwa berkenan memberikan anugerah berupa kesaktian Kanda Sanga. Seketika itu juga Gede Mecaling berubah wujud menjadi sangat menyeramkan. Taringnya panjang dan badannya besar sekali. Suaranya menggetarkan jagat raya, dan oleh sebab itulah kemudian Ida Bhatara Indra turun dari Loka untuk mengatasi ketakutan yang dibuat oleh GedeMecaling.

Bhatara Indra memotong taring dari Gede Mecaling dan membuat jagat tentram kembali. Setelah itu berhasil dilakukan, kemudian I Gede Mecaling kembali melakukan tapa hebat memuja Bhatara Rudra. Dengan ketekunan yang dimiliki oleh Gede Mecaling, maka Ida Bhatara Rudra menjadi asih dan memberikan anugerah kepada I Gede Mecaling berupa lima macam sakti yakni: Taksu kesaktian, taksu pengeger, taksu balian, taksu penolak grubug dan taksu pengadakan mrana.

I Gede Mecaling memimpin semua wong samar dan bebutan-bebutan yang ada di bumi. I Gede Mecaling juga memberikan wewenang sebagai penguasa samudra. Karena menguasai samudra sering juga disebut Ratu Gede Samudra. Gelar dari I Gede Mecaling yang deiberikan oleh Ida Betari Durga Dewi yaitu Papak Poleng dan permaisurinya Sang Ayu Mas Rajeg Bumi diberi gelar Papak Selem. I Gede Ratu Mecaling moksa di Ped dan istrinya moksa di Bias Muntig. Keduanya sekarang sebagai penguasa bumi Nusa Penida dan dapat wewenang sebagai penguasa kematian. Maka bagi umat yang ingin umurnya panjang, sehat, selamat dan lain-lain memohonlah kepada beliau I Gede Mecaling yang akhirnya bergelar Ida Bhatara Ratu Gede Mas Mecaling. Akan tetapi karena sering ke Bali dan bertemu dengan Ida Bhatari Ratu Niang Sakti, akhirnya Ida Bhatara Ratu Gede Dalem Ped juda menjadi Pengabih Ida Bhatari Ratu Niang Sakti

Dalem Sawang menyampaikan pastu yang berbunyi: "Barang siapa yang ingin menyusung Durga Dewi pengastawanya ke dalem Nusa sepatutnya menggunakan kayu perahu sebagai prelingga sarwa mecaling, karena kayu perahu berasal dari pengendrana Ida Bhatara Siwa (Dukuh Jumpungan), maka sidi, sakti, perkasalah dia".

. Ratu Gede Mecaling distanakan dalam Pura Ratu Gede dan diberi nama suci Ida Bhatara Ratu Hyang Agung Ratu Gede Mecaling. Seluruh sakti yang berupa lima macam taksu tadi adalah hal-hal yang menjadi gegambelan Ida Bhatara. Jadi tidaklah mengherankan jika banyak tapakan, balian, jero dalang, topeng, dan penekun kewisesan melakukan tirakat untuk menyenangkan hati Ratu Gede Mecaling agar menerima berkat yang mereka inginkan.

Tidak ada satupun balian yang kalah, tidak ada satu penekun ilmu kewisesan yang kasor jika sudah mendapatkan anugerah dari Ida Bhatara Gede Mecaling. Semuanya akan siddhimandhi, siddhimantra dan siddhi ngucap. Pelinggih beliau adalah ada di Pura Ratu Gede dengan ciri yang berbeda dari pura-pura lain yang terdapat di wilayah Peed. Seluruh busana pura atau wastra pura berwarna poleng. Dari candi bentar, apit lawang, hingga pelinggih utama, semuanya poleng. Itulah cirinya Pura Ratu Gede Mecaling.

Menurut mitologi, hujan di wilayah Klungkung dan sekitarnya adalah ada di bawah penguasaan Ratu Gede Mecaling. Jadi kepada tukang terang dan pawang hujan, jika ingin sukses berkecimpung pada profsesinya, maka jangan abaikan pemujaan kepada Ratu Gede Mecaling Dalem Nusa.

Sumber : Gues Wick Bagus
Mengapa Kita Memeluk Agama?

On 13.59 with No comments


Berita Hindu Indonesa - KARENA AGAMA MEMBERIKAN TUNTUNAN HIDUP DAMAI SEJAHTERA, BAHAGIA (JAGADHITA) DAN LEPAS DARI KETERIKATAN KELAHIRAN (MOKSA)

Belakangan ini medsos khususnya digrup yg berbau Hindu diramaikan dgn pro kontra tentang ajaran HK . Mengapa sampai diributkan ? Karena adanya kekhawatiran budaya Bali akan punah oleh budaya india yg dibawa HK. Sudah menjadi hukum kodrat bahwa segala sesuatu bisa bertahan hidup bila bisa menyesuaikan diri dgn keadaan jaman. Contoh dinosaurus punah ribuan tahun yg lalu karena tidak bisa menyesuaikan diri dgn petuBahan iklim saat itu. Demikian juga adat istiadat dan budaya bisa bertahan disebabkan ada masyarakat pendukungnya karena sesuai dgn kebutuhan hidupnya saat ini.


Mengapa banyak orang mengikuti sekte pemujaan tertentu seperti Hare Krisnha, Sai Baba, Brahma Kumari dll ?
Karena mereka menganggap dgn sistem pemujaan yg mereka anut akan lebih cepat tercapai tujuan seperti yg diuraikan diatas yaitu kedamaian, kesejahteraan, kebahagiaan dan kelepasan serta sesuai tuntutan kebutuhan hidupnya saat ini.

Sekarang yg menjadi pertanyaan sudahkah kita umat Hindu di Bali yg beradat istiadat dan berbudaya Bali mampu mengadakan perubahan sehingga sesuai dgn kebutuhan jaman sehingga umat merasa nyaman damai, sejahtera, dan bahagia ? Bagaimana dgn kasus2 adat, beban ayahan yg menjerat sudahkah dicarikan solusi oleh para tokoh kita yg punya kekuasaan untuk itu sehingga tidak tergilas oleh jaman. Kita tidak cukup untuk menyalahkan mereka tanpa mau melakukan perubahan dan perbaikan yg memungkinkan kita tetap hidup dan bertahan dalam hidup yg penuh persaingan disemua sektor. Biasanya manusia sudah kodratnya akan mengikuti apa yg dapat memudahkan hidupnya.

Adat istiadat dan budaya Bali cendrung rumit, tertutup dan aneh.
Rumit : pelasanaan ritualnya 95 % orang tidak mengerti dan tidak mampu membuat sarananya sehingga ritual kebanyakan hasil membeli bukan hasil pelaksanaan sendiri.
Tertutup : kalau ada masyarakat luar mau masuk Hindu sulit diterima dikomunitas orang Bali mau dimasukkan klan /dadia mana

Aneh : ada pola pikir aneh yg menjadi warisan masyarakat Bali, contoh ada orang luar mau masuk Hindu dan ingin menjadi anggota salah satu dadia ternyata tidak bisa diterima kendalanya nanti masalah sembah kesembah. Tapi kalau ada orang mengambil istri orang luar Bali tidak masalah langsung diajak tidak ada masalah. Apa,bedanya orang yg dipakai istri dgn orang yg mau masuk Hindu, sama 2 orang luar Bali.

Ini menjadi kendala berkembangnya Hindu khususnya di Bali . Sy pribadi sudah merubah sistem itu di lingkungan dadia sehingga mau masuk silshkan asal memenhi syarat dan ikut aturan dadia. Kita juga sudah,menyederhanakan ritual tidak seperti dulu. Apa yg bisa dibuat oleh krama itulah yg dipersembahkan

Kalau kita dibali berhasil mengadakan perubahan yg lebih baik maka kita tak perlu khawatir terhadap eksistensi adat istiadat dan budaya Bali bisa berkembang dgn baik,

Sumber : Igede Trawi

Mengapa Masegeh Saat Kajeng Kliwon?

On 13.50 with No comments

Berita Hindu IndonesiaKajeng Kliwon, hari pertemuan tri wara “kajeng” dengan Pancawara “kliwon”. Datangnya setiap 15 hari sekali. Kajeng Kliwon adalah hari payogan Sang Hyang Durga Dewi / Bhatari Durga diiringi oleh para bala – bala, rencang - rencang beliau yakni “sarwa buta kala”. Inilah yang sebabnya mengapa pada Kajeng Kliwon aura magisnya sangat kental. Beliau Hyang Durga Dewi sebagai sumber dari segala kesaktian dan kekuatan magis.


Pada hari Kajeng Kliwon, “sang gama tirtha” (umat sedharma) melaksanakan prakerti menghaturkan canang wangi – wangian, pengayatan ditujukan kehadapan Hyang Durga Dewi. Sedangkan di natar sanggah, natar pekarangan dan di lebuh, dihaturkan “segehan” tetabuhan arak berem, ditujukan kepada Sang Tiga Bhucari (Bhuta Bucari, Kala Bucari, Durga Bucari), Sang Adi Kala / Sang Bhuta Raja, dan para bala-balanya yang merupakan para pengiring Hyang Durga Dewi.

Pada hari Kajeng Kliwon, “sang gama tirtha” ngastawa serta menghaturkan sembah bakti kehadapan Hyang Durga Dewi memohon kerahayuan.

Apabila tak pernah menghaturkan segehan, maka Sang Tiga Bhucari akan meminta ijin kepada Hyang Durga Dewi untuk “ngrebeda” mengganggu para penghuni rumah. Mereka menciptakan “gering” (penyakit), mengundang desti, teluh, menyuruh kekuatan hitam dan mahluk gaib seperti tonye, memedi, dll memasuki pekarangan rumah. Sang Bhuta Tiga juga akan menggelar pemunah / pengalah yang menyebabkan situasi rumah menjadi “cemer” tidak suci, muram, tidak nyaman, yang menyebabkan para Betara dan Leluhur tak berkenan lagi “mehyang” di pekarangan itu, lalu kembali ke kayangan. Rumah dan pekarangan menjadi tak terberkati, suwung mangmung. Penghuni rumah menjadi tak nyaman, pikiran kalut, sering sakit, sering mengalami hal aneh, mudah marah, sering salah lihat, sering salah dengar yang menyebabkan salah sangka, salah paham, yang kemudian menjadi sumber dari perselisihan dan pertengkaran.

Upacara Adat Suku Tengger Probolinggo Jawa Timur

On 08.08 with No comments


Upacara Suku Tengger

Berita Hindu Indonesia - 
Bak Pengawal yang Setia, Suku Tengger yang tinggal di Kawasan Bromo-Tengger memiliki peranan penting dalam menjaga keluhuran adat dan kesucian kawasan Bromo-Tengger-Semeru. Suku Tengger merupakan sebutan bagi Suku Asli yang mendiami Tengger (dikenal sebagai tanah hila-hila / suci) sejak zaman kerajaan Majapahit, para penghuninya dianggap sebagai abdi di bidang keagamaan.

Mereka hidup sederhana dengan mengandalkan hasil pertanian dan perkebunan, dan memiliki tingkat pertumbuhan penduduk yang rendah. Yang membedakan mereka, dengan suku Jawapada umumnya, misalkan bahasa daerah yang mereka gunakan sehari hari adalah bahasa Jawa Kuno. Sampai saat ini mayoritas Suku Tenggermasih menganut agama Hindu Jawa. Adat istiadat dan budaya para leluhur suku Tenggersangat dipegang teguh hingga kini. Hal ini Tercermin dari masih lestarinya berbagai macam upacara/ritus keagamaan asli dariHindu Tengger.

Upacara adat suku Tengger terdiri dari
(1).Upacara adat yang berhubungan dengankehidupan bermasyarakat suku Tengger, seperti : Hari Raya Karo, Yadnya Kasada dan Unan-Unan,
(2). Upacara adat yang berhubungan dengan siklus kehidupan seseorang, seperti:kelahiran (upacara sayut, cuplak puser, tugel kuncung), menikah (upacara walagara),kematian (entas-entas dll).
(3) Upacara adat yang berhubungan dengansiklus pertanian, mendirikan rumah, dangejala alam seperti leliwet dan barikan. Upacara Yadnya Kasada merupakan ritual tahunan yang dilaksanakan pada malam ke-14 Bulan Kasada. Upacara Kasada diawali dengan pengukuhan sesepuh Tengger dan pementasansendratari Rara Anteng – Jaka Seger di panggung terbuka Pendopo Agung Desa Ngadisari.

Sumber :
#slokaweda #hindu #hindunusantara #hindubali #sloka #weda #infobali

@hindu_dharma @bimashindulpg @ukmhinduunila @unhidenpasar @puskorhindunesia @ppkmhdi @pckmhdipalu @pckmhdidenpasar @kmhdijatim @kmhdundip @kmh.telkomuniversity @kmhdunram @kmhdipalembang @kmhipo @kmhdisumsel @kmh_itb @kmhdi.jabar @kmhdiyogyakarta @kmhdipb @kmhb_unj @kmhbstan @kmhdfkugm @kmhd.sampoernauniversity @kmhdisurabaya @pc_kmhdibanjarmasin @kmhdi_bandarlampung @kmhd.isiyk @pc.kmhdi.karangasem @dpnperadahindonesia @peradah_kepri @peradah_sulsel @madewirayasa
PURA MANDALA GIRI SEMERU KABUPATEN LUMAJANG

On 16.03 with No comments

Pura Lumajang

Berita Hindu Indonesia - Komunitas agama Hindu ini memiliki tempat ibadah yang bernama Pura Mandara Giri Semeru, yang juga dijadikan sebagai objek wisata religi di Kabupaten Lumajang. Selain masyarakat Hindu di Senduro, pura ini juga sering dikunjungi masyarakat Hindu dari luar daerah Jawa Timur, termasuk dari Bali, terlebih pada saat hari-hari besar keagamaan atau juga pada saat upacara Piodalan (ulang tahun pura) yang diadakan tiap tahun sekitar bulan Juli. Pada upacara ini akan tampak masyarakat Hindu dari berbagai daerah yang memenuhi kawasan pura untuk berdoa dan menampilkan berbagai macam kesenian, termasuk kesenian Bali.

Terletak di sebelah timur kaki Gunung Semeru, di balik berdirinya pura ini ternyata terdapat sebuah cerita yang menarik. Awal pendirian Pura Mandara Giri Semeru di Kecamatan Senduro berkaitan dengan upacara Nuur Tirta, yaitu upacara memohon atau pengambilan air suci ke Patirtaan Watu Kelosot di kaki Gunung Semeru oleh umat Hindu dari Bali. Upacara Nuur Tirta ini merupakan bagian dari proses upacara Agung Karya Ekadasa Rudra di Pura Agung Besakih, yaitu pura yang berlokasi di kaki Gunung Agung di Bali. Pada upacara ini air suci harus dibawa oleh umat Hindu dari kaki Gunung Semeru hingga ke Pura Agung Besakih. Upacara ini awalnya dilakukan pada bulan Maret tahun 1963, yang kemudian dilaksanakan lagi pada tahun 1979. 

Dengan adanya upacara yang diadakan secara berkala tersebut, yang melibatkan umat Hindu baik dari Bali maupun umat Hindu asli sekitar kawasan Gunung Semeru, maka diputuskan untuk mendirikan tempat suci di kawasan yang dalam sejarah dinyatakan sebagai kawasan suci semasa Jawa Kuno ini. Meski awalnya permohonan pendirian pura sempat ditolak Pemerintah karena lokasinya berada di sekitar permukiman masyarakat non-Hindu, namun pada akhirnya terbukti bahwa tampak jelas adanya kerukunan antar umat beragama di daerah sekitar pura ini.

Sumber :
#slokaweda #hindu #hindunusantara #hindubali #sloka #weda #infobali
@jokowi @hindu_dharma @bimashindulpg @ukmhinduunila @unhidenpasar @puskorhindunesia @ppkmhdi @pckmhdipalu @pckmhdidenpasar @kmhdijatim @kmhdundip @kmh.telkomuniversity @kmhdunram @kmhdipalembang @kmhipo @kmhdisumsel @kmh_itb @kmhdi.jabar @kmhdiyogyakarta @kmhd
Proses Penciptaan Alam Semesta Menurut Agama Hindu

On 14.39 with No comments

proses pencitaan alam semesta

Pendahuluan
Alam semesta, dalam Hindu disebut dengan Bhuwana agung. Bhuwana  agung juga disebut dengan istilah “makrokosmos, jagat raya, alam besar, brahmanda”. Semua gugusan matahari, bintang, planet, bumi, bulan dan yang menjadi isi alam semesta ini disebut bhuwana agung.
Pada saat ini sering muncul berbagai pertanyaan mengenai alam smesta. Sebenarnya alam semesta ini apa? bagaimana awal dari alam semesta ini? dan siapa yag menciptakan?. Pertanyaan-pertanyaan tersebut sering muncul di berbagai kalangan. Dan sejauh ini para ilmuwan sudah melakukan penelitian-penelitian secara mendetail.dari penelitian-penelitian tersebut memunculkan berbagai teori-teori tentang alam semesta/kosmologi. Dan  seiring dengan berjalannya waktu, teori-teori tersebut banyak yang digugurkan para ilmuwan lainnya. Namun dari teori-teori yang sudah ada masih belum bisa diketahui mana yang lebih jelas atau benar.
Penelitian-penelitian tersebut sudah terjadi sejak sebelum masehi hingga sekarang, namun apabila dikaitkan dengan keadaan saat ini masih belum ada teori yang menjelaskan secara pasti. Oleh sebab itu saya akan memaparkan sedikit pengetahuan yang saya ketahui tentang definisi alam semesta menurut ajaran Hindu dan konsep harmoni alam semesta.
Pembahasan
Konsep Harmoni Alam Semesta
a.  Tri Hita Karana
Tri Hita Karana berasal dari kata “Tri” yang berarti tiga, “Hita” yang berarti kebahagiaan dan “Karana” yang berarti penyebab. Dengan demikian Tri Hita Karana berarti “Tiga penyebab terciptanya kebahagiaan”.
Konsep kosmologi Tri Hita Karana merupakan falsafah hidup tangguh. Falsafah tersebut memiliki konsep yang dapat melestarikan keanekaragaman budaya dan lingkungan di tengah hantaman globalisasi dan homogenisasi. Pada dasarnya hakikat ajaran tri hita karana menekankan tiga hubungan manusia dalam kehidupan di dunia ini. Ketiga hubungan itu meliputi hubungan dengan sesama manusia, hubungan dengan alam sekitar, dan hubungan dengan Tuhan yang saling terkait satu sama lain. Setiap hubungan memiliki pedoman hidup menghargai sesama aspek sekelilingnya. Prinsip pelaksanaannya harus seimbang, selaras antara satu dan lainnya. Apabila keseimbangan tercapai, manusia akan hidup dengan menghindari dari pada segala tindakan buruk. Hidupnya akan seimbang, tentram, dan damai.
Hakikat mendasar Tri Hita Karana mengandung pengertian tiga penyebab kesejahteraan itu bersumber pada keharmonisan hubungan antara Manusia dengan Tuhan nya, Manusia dengan alam lingkungannya, dan Manusia dengan sesamanya. Dengan menerapkan falsafah tersebut diharapkan dapat menggantikan pandangan hidup modern yang lebih mengedepankan individualisme dan materialisme. Membudayakan Tri Hita Karana akan dapat memupus pandangan yang mendorong konsumerisme, pertikaian dan gejolak.
b. Manusia dengan Alam Lingkungan
Manusia hidup dalam suatu lingkungan tertentu. Manusia memperoleh bahan keperluan hidup dari lingkungannya. Manusia dengan demikian sangat tergantung kepada lingkungannya. Oleh karena itu manusia harus selalu memperhatikan situasi dan kondisi lingkungannya. Lingkungan harus selalu dijaga dan dipelihara serta tidak dirusak. Lingkungan harus selalu bersih dan rapi. Lingkungan tidak boleh dikotori atau dirusak. Hutan tidak boleh ditebang semuanya, binatang-binatang tidak boleh diburu seenaknya, karena dapat menganggu keseimbangan alam. Lingkungan justu harus dijaga kerapiannya, keserasiannya dan kelestariannya. Lingkungan yang ditata dengan rapi dan bersih akan menciptakan keindahan. Keindahan lingkungan dapat menimbulkan rasa tenang dan tentram dalam diri manusia.
Kesimpulan

Pokok ajaran Tri Hita karana dalam bagian manusia dengan alam/ lingkungan karena manusia hidup dalam lingkungan dan proses penciptaan alam semester disebut dengan dengan Bhuwana agung. Bhuwana  agung juga disebut dengan istilah “makrokosmos, jagat raya, alam besar, brahmanda”. Semua gugusan matahari, bintang, planet, bumi, bulan dan yang menjadi isi alam semesta ini disebut bhuwana agung.
Dusun Kalipura, Desa Kulirejo Kab. Kendal Jadi Lokasi KKN 2017 STAH Dharma Nusantara Jakarta

On 11.24 with No comments

Berita Hindu Indonesia - Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Hindu Dharma Nusantara Jakarta (STAH DN Jakarta), akan melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Dusun Kalipura, Desa Kulirejo, Kecamatan Singorejo. Kab. Kendal, Jawa Tengah.


Demikian hal tersebut diungkapkan salah satu mahasiswi STAH DN Jakarta, Supriadi kepada Berita Hindu, tadi pagi
"Dusun Kalipura, Desa Kulirejo" Kata Supriadi di Jakarta, Jumat, (27/04/2017).

KKN tersebut akan berlangsung dalam waktu yang singkat yakni dari 20-26 April 2017. "Dari tanggal 20 sampai 26 April 2017" lanjutnya.

Sementara itu mengenai kegiatan apa saja yang akan dilaksanakan, informan kami tidak mengungkapkan detailnya. Tetapi setidaknya ada beberapa hal yang telah disiapkan.
"Ratusan buku yang dibawah, ada dupa sebagai sample. kemudian kalau kegiatannya ada pasraman kilat dan parahyangan" lanjutnya.

Selain buku, STAH DN Jakarta juga akan menyerahkan sejumlah ternak kambing ke umat Hindu di Dusun Kalipura, Desa Kulirejo.
Untuk diketahui, ini bukan kali pertama STAH Jakarta berani keluar daerah melaksanakan KKN. Pada tahun sebelumnya 2015 KKN STAH Jakarta dilaksanakan di Desa Medowo, Kabupaten Kediri Jawa Timur dan Pada tahun 2016 KKN STAH Jakarta dilaksanakan di Desa Larangan Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah. Kemudian tahun ini masih dilaksanakan di wilayah Jawa Tengah yg bertepatan di Dusun Kalipura, Desa Kulirejo, Singorejo. Kab Kendal.
Semua kegiatan tersebut dilakoni untuk mendukung pengembangan umat Hindu di daerah, baik dari segi ekonomi, pendidikan maupun bidang kesehatan.


Sumber : Stah Dharma Nusantara Jakarta