Berita Hindu Indonesia

Berita Hindu Indonesia

Media Informasi Terkini Masyarakat Hindu Indonesia

TWITTER

Diberdayakan oleh Blogger.
Kementerian Agama Akan Menggelar Temu Karya Ilmiah Perguruan Tinggi Keagamaan Hindu Tingkat Nasional VI Tahun 2017 di Lampung

On 09.36 with No comments



Berita Hindu Indonesia. Temu Karya Ilmiah Perguruan Tinggi Keagamaan Hindu Tingkat Nasional VI Tahun 2017 menurut rencana akan diselenggarakan tanggal 4 s/d 8 September 2017 di Provinsi Lampung. Bertindak sebagai tuan rumah adalah Sekolah Tinggi Agama Hindu Lampung. Ajang kompetisi 3 tahunan antar Perguruan Tinggi Keagamaan Hindu (PTKH) yang difasilitasi Ditjen Bimas Hindu Kementerian Agama Republik Indonesia tersebut menurut rencana akan dibuka oleh Sekjen Kementerian Agama RI mewakili Menteri Agama karena saat acara diselenggarakan sedang melaksanakan tugas sebagai Amirul Haj di Arab Saudi.

Pada gelaran Temu Karya Ilmiah Perguruan Tinggi Keagamaan Hindu Tingkat Nasional Tahun 2017 kali ini, tema yang diambil adalah 

“Melalui Temu Karya Ilmiah Kita Kembangkan Budaya Akademik yang Kreatif, Terampil dan Berdaya Saing Guna Memperkokoh Atmosfir Akademik di Lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Hindu”.

Lomba diikuti 550 peserta dosen dan mahasiswa dari 11 Perguruan Tinggi Keagamaan Hindu Negeri dan Swasta se Indonesia yang akan mempertandingkan 14 jenis lomba dan terbagi dalam dua kategori lomba karya ilmiah dan lomba keterampilan akademik antara lain: Lomba Presentasi Penulisan Proposal Penelitian, Lomba Presentasi Hasil Penelitian, Lomba Penulisan Artikel Jurnal Ilmiah, Lomba Resensi Buku, Lomba Rancangan Penulisan Buku, Lomba Yoga Asanas, Dharmawacana Bahasa Indonesia, Cipta Tari Kreasi Keagamaan Hindu, Cipta Lagu Keagamaan Hindu, Apresiasi Sloka, Apresiasi Palawakya, Lomba Mengajar (Micro Teaching), Cipta Sastra Yantra dan yang terakhir adalah Lomba Dharmawacana Bahasa Inggris. Selain berbagai jenis lomba diatas juga akan diselenggarakan Parade atau pawai, Sarasehan, Pameran, Tirta Yatra, Launching / Bedah Buku, Olah Raga, dan eksibisi seni.

Direktur Pendidikan Hindu Ditjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI, Ida Bagus Gde Subawa dalam keterangan persnya mengatakan bahwa kegiatan Temu Karya Ilmiah Perguruan Tinggi Keagamaan Hindu merupakan agenda 3 tahunan Ditjen Bimas Hindu yang diharapkan bisa meningkatkan kerja sama, kualitas Tri Dharma, serta kualitas suasana akademis, antar Perguruan Tinggi Hindu se Indonesia. 

“ Dengan demikian akan terjadi peningkatan kualitas mutu perguruan tinggi terutama kualitas penelitian dan kualitas akademis lainnya pada civitas akademika Perguruan Tinggi Agama Hindu dan saya berharap peserta bisa menampilkan karya terbaiknya” jelas IBG. Subawa. 

Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana I Made Santika menyampaikan bahwa Ditjen Bimas Hindu selaku pembina fungsional akademik sudah siap untuk menggelar Temu Karya Ilmiah PTKH pada bulan September 2017 besok. Temu Karya Ilmiah Perguruan Tinggi Keagamaan Hindu Tingkat Nasional ke 6 ini menurut Santika dilaksanakan dalam rangka meningkatkan standar mutu pembelajaran ilmiah guna pengembangan disiplin ilmu agama dan keagamaan. Dalam penyelenggaraan Temu Karya Ilmiah melibatkan mahasiswa serta dosen Perguruan Tinggi Keagamaan Hindu untuk ikut ambil bagian dan meyusun karya ilmiah. Dengan demikian diharapkan di masing – masing perguruan tinggi Hindu nantinya akan tumbuh suasana berkembang akademis yang religius dan dapat berdaya saing dengan perguruan tinggi lainnya.

Lebih lanjut Made Santika mengatakan bahwa 11 Perguruan Tinggi Keagamaan Hindu suadah siap mengirimkan kontingennya masing-masing. Kesebelas PTKH tersebut yaitu Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar, Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri (STAHN) Gde Pudja Mataram, Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri (STAHN) Tampung Penyang Palangka Raya, STAH Dharma Nusantara Jakarta, STAH Santika Dharma Malang, STAH Dharma Sentana Palu, Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten, STAH Lampung, STKIP Agama Hindu Singaraja, STKIP Agama Hindu Amlapura Karangasem dan Universitas Hindu (UNHI) Denpasar. 

“Semoga kehadiran kontingen dari berbagai wilayah di Indonesia pada acara Temu Karya Ilmiah di Provinsi Lampung ini bisa memberikan kontribusi positif bagi kesemarakan dan kerukunan kehidupan beragama yang sudah berjalan baik selama ini di SANG BUMI RUWA JURAI ” Lampung“ kata Made Santika.
Dusun Kalipura, Desa Kulirejo Kab. Kendal Jadi Lokasi KKN 2017 STAH Dharma Nusantara Jakarta

On 11.24 with No comments

Berita Hindu Indonesia - Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Hindu Dharma Nusantara Jakarta (STAH DN Jakarta), akan melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Dusun Kalipura, Desa Kulirejo, Kecamatan Singorejo. Kab. Kendal, Jawa Tengah.


Demikian hal tersebut diungkapkan salah satu mahasiswi STAH DN Jakarta, Supriadi kepada Berita Hindu, tadi pagi
"Dusun Kalipura, Desa Kulirejo" Kata Supriadi di Jakarta, Jumat, (27/04/2017).

KKN tersebut akan berlangsung dalam waktu yang singkat yakni dari 20-26 April 2017. "Dari tanggal 20 sampai 26 April 2017" lanjutnya.

Sementara itu mengenai kegiatan apa saja yang akan dilaksanakan, informan kami tidak mengungkapkan detailnya. Tetapi setidaknya ada beberapa hal yang telah disiapkan.
"Ratusan buku yang dibawah, ada dupa sebagai sample. kemudian kalau kegiatannya ada pasraman kilat dan parahyangan" lanjutnya.

Selain buku, STAH DN Jakarta juga akan menyerahkan sejumlah ternak kambing ke umat Hindu di Dusun Kalipura, Desa Kulirejo.
Untuk diketahui, ini bukan kali pertama STAH Jakarta berani keluar daerah melaksanakan KKN. Pada tahun sebelumnya 2015 KKN STAH Jakarta dilaksanakan di Desa Medowo, Kabupaten Kediri Jawa Timur dan Pada tahun 2016 KKN STAH Jakarta dilaksanakan di Desa Larangan Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah. Kemudian tahun ini masih dilaksanakan di wilayah Jawa Tengah yg bertepatan di Dusun Kalipura, Desa Kulirejo, Singorejo. Kab Kendal.
Semua kegiatan tersebut dilakoni untuk mendukung pengembangan umat Hindu di daerah, baik dari segi ekonomi, pendidikan maupun bidang kesehatan.


Sumber : Stah Dharma Nusantara Jakarta 
               




Ridwan Kamil Akan Bangun Pura di Bandung

On 18.57 with No comments

Berita Hindu Indonesia. Walikota Bandung, Ridwan Kamil berkeinginan untuk menambah jumlah Pura di wilayah Bandung. Hal tersebut disampaikan ketika menerima audiensi Parisada Hindu Dharma Indonesia, Kota Bandung. Dalam cuitannya di Twitter @ridwankamil menyampaikan bahwa Pemkot Bandung berencana menambah bangunan Pura di Bandung. Selain itu juga komitmennya memberikan bantuan dana rutin serta keinginannya adanya kolaborasi antara Bali dan Sunda.

Ridwan Kamil Akan Bangun Pura di Bandung


Berita ini tentunya menjadi sebuah angin segar bagi umat Hindu dai wilayah Bandung Raya serta umat Hindu di seluruh Indonesia. Perlu diketahui bahwa umat Hindu di berbagai wilayah di luar Bali seringkali mendapatkan hambatan dalam mendirikan tempat ibadah Pura. Hambatan yang muncul bisa dari masyarakat setempat yang non Hindu ataupun pemerintah wilayah setempat. Ridwan Kamil telah memberi contoh nyata sebagai seorang pemimpin yang bisa berdiri di atas semua golongan dan agama. 

Ridwan Kamil Akan Bangun Pura di Bandung


Cuitan Ridwan Kamil yang ingin berkolaborasi antara budaya Sunda dan Bali tentunya harus dimaknai dan disikapi pula oleh komponen Hindu di Bandung. Bentuk konkretnya adalah jangan sampai bangunan Pura yang akan dibangun tersebut tidak mencerminkan adanya kolaborasi yang diinginkan sang Walikota. Sudah semestinya dimanapun Pura dibangun harus mengakomodir budaya lokal yang tentunya tanpa melanggar rambu - rambu agama dalam tata letak pendirian Pura. Hal tersebut tentunya harus didesain secara matang oleh panitia pembangunan Pura yang nantinya akan dibentuk. Alangkah indahnya bila Pura Hindu di seluruh pelosok Indonesia bisa didesain dengan bentuk dan desain bangunan budaya setempat.

Ridwan Kamil Akan Bangun Pura di Bandung


Lebih lanjut dalam cuitannya Ridwan kamil juga menyampaikan pengalaman indahnya ketika dia mendirikan masjid di wilayah Tuban, Kuta Bali. Dalam pendirian tersebut dirinya tidak mendapat hambatan sedikit pun dari masyarakat Bali. pembangunan bisa berjalan lancar dan aman. Melalui cuitannya Ridwan kamil menyampaikan ucapan terima kasihnya dalam bahasa Bali kepada masyarakat Bali.

Sebagai umat minoritas di berbagai wilayah di seluruh Indonesia, umat Hindu tentunya sangat berharap perhatian Pemprov/Pemkot/Pemkab di seluruh Indonesia dalam memberikan pelayanan yang adil dan proporsional. Hal tersebut tentunya hanya bisa terwujud bila adanya jalinan  komunikasi dan hubungan yang baik antara PHDI dengan Gubernur, Walikota/Bupati di wilayahnya. Rajin - rajinlah berkomunikasi dengan pimpinan daerah setempat dengan baik dan efektif. Sampaikan problematika dalam hal pelayanan pemerintah yang dihadapi umat Hindu di wilayah tersebut dan sambil berharap semoga virus Ridwan Kamil ini bisa menyebar merata ke seluruh pimpinan wilayah se-Indonesia. 

Hatur Nuhun Pisan Kang.... 


Umat Hindu Bali Menentang Rencana Pembangunan Hotel Bintang 6 di Tanah Lot

On 13.41 with No comments

Berita Hindu Indonesia - Sebuah rencana pembangunan hotel bintang 6 di Bali telah memancing kemarahan warga Bali. Sebagian umat berpendapat bahwa hotel yang akan dibangun tersebut akan lebih tinggi dari pohon kelapa. Kelompok usaha Hotel Trump rencananya mulai membangun sebuah resort tahun depan dan akan dibangun di puncak tebing yang pemandanganya langsung menghadap Pura Tanah Lot yang terkenal yang dibangun di abad ke-16.


Ilustrasi
Masyarakat lokal di Bali telah memprotes rencana pembangunan ini karena hotel ini akan memebentuk menara yang tinggi. Banyak umat Hindu di Bali mengukur tinggi gedung-gedung dengan ketinggian pohon kelapa dan percaya bahwa setiap gedung yang tingginya melebihi pohon kelapa akan membuat para Dewa marah. (Sebenarnnya tinggi gedung tidak boleh dari pohon kelapa, adalah usulan konsultan perencanaan dari Bank Dunia, tidak ada kaitanya dengan kemarahan para Dewa. Kata orang sekarang ini '' lebay'', redaksi)

I Gusti Ngurah Sudiana, Pimpinan Parisada Hindu Dharma Indonesia Prov. Bali bercerita ke harian Bloomberg :''Saya sangat menentang keras setiap pembangunan yang berdambak kepada Pura. Hal-hal seperti ini sangat sensitif di Bali. Umat Hindu Bali cenderung tidak mau berteriak keras, namun hal-hal seperti ini berkaitan dengan kesucian Pura yang sangat sensitif, tapi penegakan hukum sangat lemah.''

HPI Mencatat : Pulau Kauai, di mana Hiduism today dan HPI dicetak, memiliki pembatasan yang sama terkait aturan pembangunan gedung: Tidak satu gedung pun yang boleh dibangun melebihi ketinggian 48 kaki ( 16 meter) gedung bertingkat empat, ini berdasarkan pada ketinggian sebuah pohon kelapa.


Sumber : Gede Ngurah Ambara/Kaltim
Info No Selfi Di Hari Raya Nyepi

On 11.23 with No comments

 
Larangan Selfi
Berita Hindu Indonesia - Himbauan kepada Umat Hindu Se-Dharma, kami mendukung dan mengapresiasi statement dari Ketua PHDI Prov. Bali Bpk Prof Dr I Gusti Ngurah Suadiana, M.Si terkait larangan berfoto selfi pada saat hari Raya Nyepi.Yang di update oleh Info Dewata pada jumat Kemarin (27/2/2017)

Mari kita sebagai umat Hindu memberikan contoh yang baik bagi umat lain bagaimana seharusnya Hari Raya Nyepi ditetapkan dan dijalankan sengan benar di Bali (Catur Bratha Penyepian)

Pada Kesempatan ini juga dapat kami sampaikan bahwa sama seperti tahun kemarin, selama Hari Raya Nyepi tidak akan melakukan posting dan Update seputar berita atau apapun  juga



Sumber : InfoDewata
Simbol Persatuan Antara Umat Muslim dan Hindu di Bali

On 13.55 with No comments

Berita Hindu Indonesia - Satu-satunya makam Muslim di tengah pemakaman umat Hindu terletak di Desa Pemecutan, Kecamatan Denpasar Barat. Makam keturunan Raja Pemecutan tersebut dikeramatkan oleh umat Hindu dan juga Muslim.


Makam Raden Ayu Pemecutan
Alias
Raden Ayu Siti Khotijah
Makam Raden Ayu Pamecutan juga menjadi simbol bagaimana sebenarnya umat berbeda keyakinan bisa menyatu. Di tempat tersebut  tidak pernah ada pengakuan bahwa umat Islam atau umat Hindu yang lebih berhak memelihara makam tersebut. Bahkan di makam itu mereka melebur dalam satu belanga dengan dua warna. Keberadaan makam Siti Khotijah menjadi salah satu alat pemersatu antara umat Muslim dengan Hindu yang merupakan agama mayoritas masyarakat di Pulau Bali.

Sejarah Makam Keramat Agung Pamecutan memang menyimpan sejuta misteri yang belum terungkap dengan jelas. Keberadaan makam keramat Putri Raja Badung hingga kini memunculkan tanda tanya seputar kematian sang puteri raja.

Puri Pamecutan yang sejak zaman kerajaan Bali menjadi salah satu kerajaan yang disegani. Selain memiliki kekuatan serta pengaruh besar, juga kehadiran seorang Raja Madura, CAKRANINGRAT IV saat berlangsung pergolakan perebutan kekuasaan Kerajaan di Bali pada awal abad ke XVII. Raja Madura ini dikenal memiliki kharisma serta kekuatan yang dibutuhkan kerajaan Badung. Kekuatan Kerajaan Badung atas bergabungnya Cakraningrat IV ternyata sanggup mengobarkan semangat berjuang Laskar Pamecutan memenangkan pertempuran antar kerajaan di Bali.

Bagian I: Cakraningrat IV Menangkan Sayembara Raja

Tersebutlah seorang raja di Puri Pemecutan yang bergelar I Gusti Ngurah Gede Pemecutan. Salah seorang putri beliau bernama Gusti Ayu Made Rai. Sang putri ketika menginjak dewasa ditimpa penyakit keras dan menahun yakni sakit kuning. Berbagai upaya sudah dilakukan untuk menyembuhkan penyakit tersebut, namun tidak kunjung sembuh pula. Sang raja ketika itu mengheningkan bayu sabda dan idep, memohon kehadapan Hyang Kuasa, di merajan puri. Dari sana beliau mendapatkan pewisik bahwa Sang Raja hendaknya mengadakan sabda pandita ratu atau sayembara.

Sang raja kemudian mengeluarkan sabda “barang siapa yang bisa menyembuhkan penyakit anak saya, kalau perempuan akan diangkat menjadi anak angkat raja. Kalau laki-laki, kalau memang jodohnya akan dinikahkan dengan putri raja”. Sabda Pandita Ratu tersebut kemudian menyebar ke seluruh jagat dan sampai ke daerah Jawa, yang didengar oleh seorang syeh (guru sepiritual ) dari Yogyakarta. Syeh ini mempunyai seorang murid kesayangan yang bernama Pangeran Cakraningrat IV dari Bangkalan Madura. Pangeran kemudian dipanggil oleh gurunya, agar mengikuti sayembara tersebut ke puri Pemecutan Bali. Maka berangkatlah Pangeran Cakraningrat ke Bali diiringi oleh empat puluh orang pengikutnya.

Singkat ceritanya, Pangeran Cakraningrat mengikuti sayembara. Dalam sayembara ini banyak Panggeran atau Putra Raja yang ambil bagian dalam sayembara penyembuhan penyakit Raden Ayu. Putra-putra raja tersebut ada dari tanah jawa seperti Metaum Pura, Gegelang, ada dari Tanah Raja Banten dan tidak ketinggalan Putra-putra Raja dari Tanah Bali. Semua mengadu kewisesan atau kesaktiannya masing-masing dalam mengobati penyakit Raden Ayu. Segala kesaktian dalam pengobatan sudah dikerahkan seperti ilmu penangkal cetik, desti, ilmu teluh tranjana, ilmu santet, ilmu guna-guna, ilmu bebai, ilmu sihir, jadi semua sudah dikeluarkan oleh para Pangeran atau Putra Raja, tidak mempan mengobati penyakit dan malah penyakit Raden Ayu semakin parah, sehingga raja Pemecutan betul-betul sedih dan panik bagaimana cara mengobati penyakit yang diderita putrinya. Dalam situasi yang sangat mecekam, tiba-tiba muncul seorang pemuda tampan yang tidak lain adalah Pangeran Cakraningrat.

Setelah Pangeran melakukan sembah sujud kehadapan Raja Pemecutan dan mohon diijinkan ikut sayembara. Raja Pemecutan sangat senang dan gembira menerima kedatangan Pangeran Cakraningrat IV dan mengijinkan mengikuti sayembara. Sang Pangeran minta supaya Raden Ayu ditempatkan di sebuah balai pesamuan Agung atau tempat paruman para Pembesar Kerajaan. Pangeran Cakraningrat mulai melakukan pengobatan dengan merapal mantra-mantra suci, telapak tangannya memancarkan cahaya putih kemudian berbentuk bulatan cahaya yang diarahkan langsung ke tubuh Raden Ayu. Sakit tuan putri dapat disembuhkan secara total oleh Pangeran Cakraningrat.

Kalau jodoh tak akan kemana, begitu pula yang terjadi antara Cakraningrat IV dengan Gusti Ayu Made Rai. Ternyata mereka saling mengagumi dan jatuh cinta saat pertama kali berjumpa. Cinta lokasi di Istan Puri Pamecutan pun terjadi saat proses penyembuhan dilakukan. Atas kesembuhan putrinya, Raja Badung memenuhi janjinya menikahkan kepada pemuda yang sanggup menyembuhkan putri Raja dari penyakit yang diderita. Persiapan pernikahan kedua insan berdarah ningrat inipun digelar meriah di lingkungan Puri Pamecutan.

Sesuai dengan janji sang raja, maka Gusti Ayu Made Rai dinikahkan dengan Pangeran Cakraningrat, ikut ke Bangkalan Madura. Gusti Made Rai pun kemudian mengikuti kepercayaan Sang Pangeran, berganti nama menjadi Raden Ayu Pemecutan alias Raden Ayu Siti Khotijah.

Bagian II: Misteri Terbunuhnya Sang Putri Raja

Beberapa hari setelah Gusti Ayu Made Rai pulih, Raja mengundang Cakraningrat IV berbincang serius dengan raja. Ternyata, Raja sudah merencanakan pernikahan mereka. Meskipun Cakraningrat IV adalah seorang muslim, Raja tidak mempermasalahkannya dan tetap memenuhi janji nya. Setelah resmi menikah, Cakraningrat beserta istrinya Gusti Made Ayu Rai yang telah berganti nama menjadi Raden Ayu Siti
Khotijah atau Raden Ayu Pamecutan untuk kembali ke Bangkalan untuk dipertemukan dengan keluarga besar Cakraningrat IV di kerajaan Madura Barat. Tentunya kehadiran Siti Khotijah di lingkungan keluarga besar Cakraningrat IV disambut baik. Apalagi sosok Siti Khotijah yang seorang putri Raja Badung memang sangat santun, taat beribadah dan tentunya memiliki kecantikan yang luar biasa.

Sedangkan Cakraningrat IV, kedudukannya sebagai seorang Raja Bangkalan, titak memungkinkannya untuk meninggalkan takhta kerajaan serta tugas-tugasnya sebagai penguasa.
Di saat bersamaan dan setelah sekian lama di Madura, Raden Ayu merindukan kampung halamannya di Pemecutan dan meminta izin kepada suaminya untuk menghadap sang ayah di Bali. Cakraningrat IV mengizinkan Raden Ayu untuk pulang ke Balibeserta 40 orang pegiring dan pengawal. Cakraningrat IV memberikan bekal berupa guci, keris dan sebuah pusaka berbentuk tusuk konde yang diselipkan di rambut sang putri.

Sesampainya di kerajaan Pamecutan, Siti Khotijah disambut dengan riang gembira. Namun, kala itu tidak ada yang mengetahui bahwa sang putri telah memeluk agama Isalam )menjadi seorang muallaf). Raden Ayu Pamecutan di tempatkan di Taman Istana Monang -Maning Denpasar dengan para dayang-dayang.

Suatu hari ketika ada suatu upacara Meligia atau Nyekah yaitu upacara Atma Wedana yang dilanjutkan dengan Ngelingihan (Menyetanakan) Betara Hyang di Pemerajan (tempat suci keluarga) Puri Pemecutan, Raden Ayu Pemecutan berkunjung ke Puri tempat kelahirannya. Pada suatu hari saat sandikala (menjelang petang) di Puri, Raden Ayu Pemecutan alias Raden Ayu Siti Kotijah menjalankan persembahyangan (ibadah sholat maghrib) di Merajan Puri dengan menggunakan Mukena (Krudung). Ketika itu salah seorang Patih di Puri melihat hal tersebut. Para patih dan pengawal kerajaan tidak menyadari bahwa Puri telah memeluk islam dan sedang melakukan ibadah sholat. Menurut kepercayaan di Bali, bila seseorang mengenakan pakaian atau jubah serba putih, itu adalah pertanda sedang melepas atau melakukan ritual ilmua hitam (Leak). Hal tersebut dianggap aneh dan dikatakan sebagai penganut aliran ilmu hitam.

Akibat ketidaktahuan pengawal istana, 'keanehan' yang disaksikan di halaman istana membuat pengawal dan patih kerajaan menjadi geram dan melaporakan hal tersebut kepada Raja. Mendengar laporan Ki Patih tersebut, Sang Raja menjadi murka. Ki Patih diperintahkan kemudian untuk membunuh Raden Ayu Siti Khotijah. Raden Ayu Siti Khotijah dibawa ke kuburan areal pemakaman yang luasnya 9 Ha. Sesampai di depan Pura Kepuh Kembar, Raden Ayu berkata kepada patih dan pengiringnya “aku sudah punya firasat sebelumnya mengenai hal ini. Karena ini adalah perintah raja, maka laksanakanlah. Dan perlu kau ketahui bahwa aku ketika itu sedang sholat atau sembahyang menurut kepercayaan Islam, tidak ada maksud jahat apalagi ngeleak.” Demikian kata Siti Khotijah.

Raden Ayu berpesan kepada Sang patih “jangan aku dibunuh dengan menggunakan senjata tajam, karena senjata tajam tak akan membunuhku. Bunuhlah aku dengan menggunakan tusuk konde yang diikat dengan daun sirih serta dililitkan dengan benang tiga warna, merah, putih dan hitam (Tri Datu), tusukkan ke dadaku. Apabila aku sudah mati, maka dari badanku akan keluar asap. Apabila asap tersebut berbau busuk, maka tanamlah aku. Tetapi apabila mengeluarkan bau yang harum, maka buatkanlah aku tempat suci yang disebut kramat”.

Setelah meninggalnya Raden Ayu, bahwa memang betul dari badanya keluar asap dan ternyata bau yang keluar sangatlah harum. Peristiwa itu sangat mengejutkan para patih dan pengawal. Perasaan dari para patih dan pengiringnya menjadi tak menentu, ada yang menangis. Sang raja menjadi sangat menyesal dengan keputusan belia . Jenasah Raden Ayu dimakamkan di tempat tersebut serta dibuatkan tempat suci yang disebut kramat, sesuai dengan permintaan beliau menjelang dibunuh. Untuk merawat makam kramat tersebut, ditunjuklah Gede Sedahan Gelogor yang saat itu menjadi kepala urusan istana di Puri Pemecutan.

Versi lain mengatakan Jika kematian putri raja adalah akibat tebasan pedang milik patih kerajaan saat melihat Siti Kahotijah sedang melaksanakan sholat. Peristiwa pembunuhan terjadi akibat kesalahpahaman di antara patih dan pengawal tentang maraknya ajaran 'pengleakan' yang bertujuan untuk memiliki ilmu hitam yang akan ditujukan kepada lawannya.

Bagian III: Misteri Pohon 'Taru Rambut' di tengah makam

Setelah sang putri meninggal, maka sesuai wasiat sang putri menjelang kematiannya, yaitu agar apabila tubuhnya mengeluarkan asap yang berbau harum, agar dibuatkan tempat suci (keramat) untuk memakamkannya, maka dibuatkan tempat suci yang disebut kramat bagi sang putri. Untuk merawat makam kramat tersebut, ditunjuklah Gede Sedahan Gelogor yang saat itu menjadi kepala urusan istana di Puri Pemecutan.

Pada suatu hari, dari makam Raden Ayu tumbuh sebuah pohon yang tingginya siktar 50 cm tepat di tengah-tengah kuburan tersebut. Pohon tersebut membuat kuburan engkag atau berbelah. Pohon tersebut dicabut oleh Sedahan Moning, istri dari sedahan Gelogor. Ajaibnya, setiapkali dibersihkan (dicabut) pohon itu kembali tumbuh dan terus membesar. Melihat keganjilan itu, akhirnya penjaga makan Gede Sedahan Gelogor dan istrinya membiarkan pohon itu tumbuh. Menurut penjaga makam yang sekaligus Kepala Istana Kerajaan, saat ia dan istrinya Sedahan Moning sedang besemadi di hadapan makam tersebut, ia diperintahkan atas wasiat Siti Khotijah agar merawat pohon itu sebagai bukti bahwa Siti Khotijah atau Raden Ayun Pamecutan atau Gusti Ayu Made Rai bukanlah orang sembarangan. Pohon tersebut konon tumbuh dari rambut Raden Ayu yang semasa hidupnya memiliki rambut hitam panjang. Sampai sekarang pohon tersebut tumbuh tepat di atas makam tersebut dan disebut 'Taru rambut'. Kini pohon Kepuk itu tumbuh besar dan telah mencapai tinggi 16 meter dan sangat disakralkan oleh warga. Penerus juru kunci, Jero Mangku I Made puger mengakui sering terjadi hal-hal di luar akal sehat selama menjaga makam Keramat Agung Pamecutan. Contoh yang sering terjadi ialah ranting dan dahan pohon sering berjatuhan namun tak pernah menyentuh atap makam. "...ranting atau dahan phon itu hanya berjatuhan di sebelah makam. Seperti ada yang melempar ke sebelah makam...", tutur Jero Mangku.

Konon versi lain terkait kepuk yang tumbuh besar tepat di tengah makam Siti Khotijah merupakan jelmaan sisir atau pendok atau tusuk konde yang dikenakan Siti Khotijah. Pendok itu, atas karomah yang diberikan Allah SWT, berubah wujud menjadi pohon keramat. Keberadaan pohon itu membuktikan bahwa Siti Khotijah atau Raden Ayu Pamecutan memiliki karomah melebihi manusia biasa.

Adapun sebagai bentuk pertanggung jawaban Raja kepada 40 orang pengiring Raden Ayu, Raja memberikan tempat bermukim di daerah Kepaon. Kini kampung Islam Kepaon berkembang pesat dan pewaris Raja Pamecutan selalu hadir pada perayaan hari besar islam. Kehadiran keluarga besar Puri Pamecutan sebagai bukti bahwa antara saudara islam kampung Islam Kepaon dengan Puri Pamecutan terjalin ikatan dari pernikahan putri raja badung Gusti Ayu Made Rai (Siti Khotijah atau Raden Ayu Pamecutan) dengan Raja Madura, Cakraningrat IV. Bahkan penguasa Puri Pamecutan, Raja Cokorda Pamecutan IX, SH mengakui bahwa kampung Islam Kepaon merupakan saudara berdasarkan perkawinan keturunan Raja Pemecutan dengan Raja madura, Cakraningrat IV.

Mengenai aci atau upacara yang dipersembahkan di makam kramat tersebut, bahwa odalannya (pujawali) jatuh pada Redite (Minggu) Wuku Pujut, sebagai peringatan hari kelahiran beliau (otonan). Persembahan (sesaji) yang dihaturkan adalah mengikuti cara kejawen yakni tumpeng putih kuning, jajan, buah-buahan, lauk pauk, tanpa daging babi.

Saat ini, Makam Keramat Agung Pamecutan telah mengalami renovasi serta diperluas menjadi 400 m2. Sampai kini, kunjungan peziarah dari berbagai daerah di Jawa, khususnya Madura sangat ramai. Demikian pula dengan warga Hindu banyak yang datang kesana.
Jumlah Penyuluh Agama Hindu di Indonesia Masih Sangat Kurang

On 13.55 with No comments


Umat Hindu Indonesia berasal dari berbagai suku dengan tradisi dan tatacara pelaksanaan upacara keagamaan yang beraneka ragam tersebar di seluruh wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Namun demikian, adanya keberagaman tradisi dan tata cara kegamaan Hindu tersebut tidak menimbulkan permasalahan bahkan menjadi sebuah mozaik yang indah karena pada dasarnya ajaran Hindu memiliki esensi yang sama yaitu Panca Sradha. Panca Sradha merupakan inti ajaran agama Hindu yakni meyakini adanya Brahman (Tuhan Yang Maha Esa), Atman (sinar suci Tuhan yang menghidupkan semua makhluk hidup), Karmaphala (hukum sebab akibat), Samsara/Punarbhawa (kelahiran kembali) dan Moksa (bersatunya kembali Atman dengan Brahman).


Jumlah Penyuluh Agama Hindu di Indonesia Masih Sangat Kurang
Pembimas Hindu Maluku sedang Melakukan Penyuluhan

Umat Hindu di Indonesia menyebar secara sporadis dan sebagian besar berdomisili di pedesaan bahkan sampai di pedalaman yang sulit dijangkau. Kondisi tersebut menyebabkan umat Hindu khususnya yang berdomisili di daerah pedalaman memiliki hambatan dan tantangan yang lebih besar dalam memperoleh pembinaan, bimbingan, dan penyuluhan agama Hindu. Hal ini sebagai akibat masih sulitnya akses dan jauhnya jarak dari kota provinsi.

Hambatan geografis tersebut, ditambah dengan masih sangat kurangnya penyuluh dengan kompetensi yang memadai, mengingat jumlah Penyuluh Agama Hindu yang berstatus PNS yang amat terbatas. Data dari Kementerian Agama, pada tahun 2017 jumlah Penyuluh Agama Hindu PNS di seluruh Indonesia hanya 158 orang dan jumlah Penyuluh Agama Hindu Non PNS yang diangkat sekitar 1000 an orang. Jumlah tersebut tentunya jauh dari jumlah ideal kebutuhan jumlah penyuluh agama Hindu bagi umat Hindu di Indonesia yang berjumlah 10 jutaan jiwa. Dimana idealnya 1 penyuluh membina sekitar 300 an umat.

Untuk menjawab hambatan tersebut, maka diperlukan lebih banyak Penyuluh Agama Hindu Non PNS yang bertugas memberikan bimbingan dan penyuluhan agama Hindu yang disebar merata sesuai kebutuhan per wilayah. Di samping itu, Penyuluh Agama Hindu Non PNS juga berfungsi sebagai tempat bertanya dan berkonsultasi tentang berbagai aspek agama Hindu termasuk peri kehidupan umat Hindu. Dengan demikian, seorang Penyuluh Agama Hindu Non PNS memiliki peran sangat penting sebagai salah satu ujung tombak pembinaan demi kemajuan umat Hindu yang merupakan bagian integral bangsa Indonesia.

Secara spiritual, Penyuluh Agama Hindu (baik PNS maupun Non PNS) memikul tugas mulia sebagai penyebar pesan suci Weda sebagaimana dinyatakan dalam Yajur Weda XXVI.2:

“Yadhemam vacam kalyanim avadani janebyah,

Brahma rajanyabhyam sudraya caryaya ca swaya caranaya ca“

Artinya :

Sampaikan kata-kata suci ini kepada seluruh umat manusia, baik kepada Brahmana, Ksatriya, Wesya maupun Sudra, kepada bangsa-Ku sendiri dan kepada bangsa-bangsa asing.

Sloka tersebut menyatakan dengan jelas dan tegas, bahwa pembinaan, bimbingan, dan penyuluhan yang dilakukan oleh seorang Penyuluh Agama Hindu mesti diberikan kepada seluruh umat Hindu khususnya dan umat manusia pada umumnya, sehingga terwujud suatu kehidupan yang harmonis berdasarkan tujuan agama Hindu yaitu Moksartham Jagadhita Ya Ca Iti Dharma.

Penyuluh Agama Hindu wajib memberikan pembinaan, bimbingan, dan penyuluhan kepada umat Hindu secara maksimal,dengan mengedepankan sikap nasionalis, menjunjung etika dan profesional, memiliki semangat pengabdian yang tinggi, disiplin, kreatif, terampil, berbudi pekerti yang luhur serta bertanggungjawab.

Harapan besar umat Hindu untuk mendapatkan pembinaan tentunya menjadi PR besar bagi Ditjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI dan PHDI Pusat yang mempunyai tugas dan fungsi memberikan pembinaan dan pelayanan agama Hindu. Perlu terobosan dan dan kerjasama yang sinergi dalam bersama - sama mengupayakan penambahan jumlah Penyuluh PNS maupun Non PNS hingga mendekati kondisi ideal. Dengan demikian umat Hindu dimanapun berada bisa merasakan kehadiran negara dan majelis umat tertingginya dalam rangka meningkatkan kualitas sradha dan bhakti umat Hindu.