Berita Hindu Indonesia

Berita Hindu Indonesia

Media Informasi Terkini Masyarakat Hindu Indonesia

SELAMAT HARI RAYA GALUNGAN LAN KUNINGAN

SELAMAT HARI RAYA GALUNGAN LAN KUNINGAN

BUKU TAMU

Selamat Tahun Baru Imlek

Selamat Tahun Baru Imlek

Donasi Pengunjung

TWITTER

Diberdayakan oleh Blogger.
Simbol Persatuan Antara Umat Muslim dan Hindu di Bali

On 13.55 with No comments

Berita Hindu Indonesia - Satu-satunya makam Muslim di tengah pemakaman umat Hindu terletak di Desa Pemecutan, Kecamatan Denpasar Barat. Makam keturunan Raja Pemecutan tersebut dikeramatkan oleh umat Hindu dan juga Muslim.


Makam Raden Ayu Pemecutan
Alias
Raden Ayu Siti Khotijah
Makam Raden Ayu Pamecutan juga menjadi simbol bagaimana sebenarnya umat berbeda keyakinan bisa menyatu. Di tempat tersebut  tidak pernah ada pengakuan bahwa umat Islam atau umat Hindu yang lebih berhak memelihara makam tersebut. Bahkan di makam itu mereka melebur dalam satu belanga dengan dua warna. Keberadaan makam Siti Khotijah menjadi salah satu alat pemersatu antara umat Muslim dengan Hindu yang merupakan agama mayoritas masyarakat di Pulau Bali.

Sejarah Makam Keramat Agung Pamecutan memang menyimpan sejuta misteri yang belum terungkap dengan jelas. Keberadaan makam keramat Putri Raja Badung hingga kini memunculkan tanda tanya seputar kematian sang puteri raja.

Puri Pamecutan yang sejak zaman kerajaan Bali menjadi salah satu kerajaan yang disegani. Selain memiliki kekuatan serta pengaruh besar, juga kehadiran seorang Raja Madura, CAKRANINGRAT IV saat berlangsung pergolakan perebutan kekuasaan Kerajaan di Bali pada awal abad ke XVII. Raja Madura ini dikenal memiliki kharisma serta kekuatan yang dibutuhkan kerajaan Badung. Kekuatan Kerajaan Badung atas bergabungnya Cakraningrat IV ternyata sanggup mengobarkan semangat berjuang Laskar Pamecutan memenangkan pertempuran antar kerajaan di Bali.

Bagian I: Cakraningrat IV Menangkan Sayembara Raja

Tersebutlah seorang raja di Puri Pemecutan yang bergelar I Gusti Ngurah Gede Pemecutan. Salah seorang putri beliau bernama Gusti Ayu Made Rai. Sang putri ketika menginjak dewasa ditimpa penyakit keras dan menahun yakni sakit kuning. Berbagai upaya sudah dilakukan untuk menyembuhkan penyakit tersebut, namun tidak kunjung sembuh pula. Sang raja ketika itu mengheningkan bayu sabda dan idep, memohon kehadapan Hyang Kuasa, di merajan puri. Dari sana beliau mendapatkan pewisik bahwa Sang Raja hendaknya mengadakan sabda pandita ratu atau sayembara.

Sang raja kemudian mengeluarkan sabda “barang siapa yang bisa menyembuhkan penyakit anak saya, kalau perempuan akan diangkat menjadi anak angkat raja. Kalau laki-laki, kalau memang jodohnya akan dinikahkan dengan putri raja”. Sabda Pandita Ratu tersebut kemudian menyebar ke seluruh jagat dan sampai ke daerah Jawa, yang didengar oleh seorang syeh (guru sepiritual ) dari Yogyakarta. Syeh ini mempunyai seorang murid kesayangan yang bernama Pangeran Cakraningrat IV dari Bangkalan Madura. Pangeran kemudian dipanggil oleh gurunya, agar mengikuti sayembara tersebut ke puri Pemecutan Bali. Maka berangkatlah Pangeran Cakraningrat ke Bali diiringi oleh empat puluh orang pengikutnya.

Singkat ceritanya, Pangeran Cakraningrat mengikuti sayembara. Dalam sayembara ini banyak Panggeran atau Putra Raja yang ambil bagian dalam sayembara penyembuhan penyakit Raden Ayu. Putra-putra raja tersebut ada dari tanah jawa seperti Metaum Pura, Gegelang, ada dari Tanah Raja Banten dan tidak ketinggalan Putra-putra Raja dari Tanah Bali. Semua mengadu kewisesan atau kesaktiannya masing-masing dalam mengobati penyakit Raden Ayu. Segala kesaktian dalam pengobatan sudah dikerahkan seperti ilmu penangkal cetik, desti, ilmu teluh tranjana, ilmu santet, ilmu guna-guna, ilmu bebai, ilmu sihir, jadi semua sudah dikeluarkan oleh para Pangeran atau Putra Raja, tidak mempan mengobati penyakit dan malah penyakit Raden Ayu semakin parah, sehingga raja Pemecutan betul-betul sedih dan panik bagaimana cara mengobati penyakit yang diderita putrinya. Dalam situasi yang sangat mecekam, tiba-tiba muncul seorang pemuda tampan yang tidak lain adalah Pangeran Cakraningrat.

Setelah Pangeran melakukan sembah sujud kehadapan Raja Pemecutan dan mohon diijinkan ikut sayembara. Raja Pemecutan sangat senang dan gembira menerima kedatangan Pangeran Cakraningrat IV dan mengijinkan mengikuti sayembara. Sang Pangeran minta supaya Raden Ayu ditempatkan di sebuah balai pesamuan Agung atau tempat paruman para Pembesar Kerajaan. Pangeran Cakraningrat mulai melakukan pengobatan dengan merapal mantra-mantra suci, telapak tangannya memancarkan cahaya putih kemudian berbentuk bulatan cahaya yang diarahkan langsung ke tubuh Raden Ayu. Sakit tuan putri dapat disembuhkan secara total oleh Pangeran Cakraningrat.

Kalau jodoh tak akan kemana, begitu pula yang terjadi antara Cakraningrat IV dengan Gusti Ayu Made Rai. Ternyata mereka saling mengagumi dan jatuh cinta saat pertama kali berjumpa. Cinta lokasi di Istan Puri Pamecutan pun terjadi saat proses penyembuhan dilakukan. Atas kesembuhan putrinya, Raja Badung memenuhi janjinya menikahkan kepada pemuda yang sanggup menyembuhkan putri Raja dari penyakit yang diderita. Persiapan pernikahan kedua insan berdarah ningrat inipun digelar meriah di lingkungan Puri Pamecutan.

Sesuai dengan janji sang raja, maka Gusti Ayu Made Rai dinikahkan dengan Pangeran Cakraningrat, ikut ke Bangkalan Madura. Gusti Made Rai pun kemudian mengikuti kepercayaan Sang Pangeran, berganti nama menjadi Raden Ayu Pemecutan alias Raden Ayu Siti Khotijah.

Bagian II: Misteri Terbunuhnya Sang Putri Raja

Beberapa hari setelah Gusti Ayu Made Rai pulih, Raja mengundang Cakraningrat IV berbincang serius dengan raja. Ternyata, Raja sudah merencanakan pernikahan mereka. Meskipun Cakraningrat IV adalah seorang muslim, Raja tidak mempermasalahkannya dan tetap memenuhi janji nya. Setelah resmi menikah, Cakraningrat beserta istrinya Gusti Made Ayu Rai yang telah berganti nama menjadi Raden Ayu Siti
Khotijah atau Raden Ayu Pamecutan untuk kembali ke Bangkalan untuk dipertemukan dengan keluarga besar Cakraningrat IV di kerajaan Madura Barat. Tentunya kehadiran Siti Khotijah di lingkungan keluarga besar Cakraningrat IV disambut baik. Apalagi sosok Siti Khotijah yang seorang putri Raja Badung memang sangat santun, taat beribadah dan tentunya memiliki kecantikan yang luar biasa.

Sedangkan Cakraningrat IV, kedudukannya sebagai seorang Raja Bangkalan, titak memungkinkannya untuk meninggalkan takhta kerajaan serta tugas-tugasnya sebagai penguasa.
Di saat bersamaan dan setelah sekian lama di Madura, Raden Ayu merindukan kampung halamannya di Pemecutan dan meminta izin kepada suaminya untuk menghadap sang ayah di Bali. Cakraningrat IV mengizinkan Raden Ayu untuk pulang ke Balibeserta 40 orang pegiring dan pengawal. Cakraningrat IV memberikan bekal berupa guci, keris dan sebuah pusaka berbentuk tusuk konde yang diselipkan di rambut sang putri.

Sesampainya di kerajaan Pamecutan, Siti Khotijah disambut dengan riang gembira. Namun, kala itu tidak ada yang mengetahui bahwa sang putri telah memeluk agama Isalam )menjadi seorang muallaf). Raden Ayu Pamecutan di tempatkan di Taman Istana Monang -Maning Denpasar dengan para dayang-dayang.

Suatu hari ketika ada suatu upacara Meligia atau Nyekah yaitu upacara Atma Wedana yang dilanjutkan dengan Ngelingihan (Menyetanakan) Betara Hyang di Pemerajan (tempat suci keluarga) Puri Pemecutan, Raden Ayu Pemecutan berkunjung ke Puri tempat kelahirannya. Pada suatu hari saat sandikala (menjelang petang) di Puri, Raden Ayu Pemecutan alias Raden Ayu Siti Kotijah menjalankan persembahyangan (ibadah sholat maghrib) di Merajan Puri dengan menggunakan Mukena (Krudung). Ketika itu salah seorang Patih di Puri melihat hal tersebut. Para patih dan pengawal kerajaan tidak menyadari bahwa Puri telah memeluk islam dan sedang melakukan ibadah sholat. Menurut kepercayaan di Bali, bila seseorang mengenakan pakaian atau jubah serba putih, itu adalah pertanda sedang melepas atau melakukan ritual ilmua hitam (Leak). Hal tersebut dianggap aneh dan dikatakan sebagai penganut aliran ilmu hitam.

Akibat ketidaktahuan pengawal istana, 'keanehan' yang disaksikan di halaman istana membuat pengawal dan patih kerajaan menjadi geram dan melaporakan hal tersebut kepada Raja. Mendengar laporan Ki Patih tersebut, Sang Raja menjadi murka. Ki Patih diperintahkan kemudian untuk membunuh Raden Ayu Siti Khotijah. Raden Ayu Siti Khotijah dibawa ke kuburan areal pemakaman yang luasnya 9 Ha. Sesampai di depan Pura Kepuh Kembar, Raden Ayu berkata kepada patih dan pengiringnya “aku sudah punya firasat sebelumnya mengenai hal ini. Karena ini adalah perintah raja, maka laksanakanlah. Dan perlu kau ketahui bahwa aku ketika itu sedang sholat atau sembahyang menurut kepercayaan Islam, tidak ada maksud jahat apalagi ngeleak.” Demikian kata Siti Khotijah.

Raden Ayu berpesan kepada Sang patih “jangan aku dibunuh dengan menggunakan senjata tajam, karena senjata tajam tak akan membunuhku. Bunuhlah aku dengan menggunakan tusuk konde yang diikat dengan daun sirih serta dililitkan dengan benang tiga warna, merah, putih dan hitam (Tri Datu), tusukkan ke dadaku. Apabila aku sudah mati, maka dari badanku akan keluar asap. Apabila asap tersebut berbau busuk, maka tanamlah aku. Tetapi apabila mengeluarkan bau yang harum, maka buatkanlah aku tempat suci yang disebut kramat”.

Setelah meninggalnya Raden Ayu, bahwa memang betul dari badanya keluar asap dan ternyata bau yang keluar sangatlah harum. Peristiwa itu sangat mengejutkan para patih dan pengawal. Perasaan dari para patih dan pengiringnya menjadi tak menentu, ada yang menangis. Sang raja menjadi sangat menyesal dengan keputusan belia . Jenasah Raden Ayu dimakamkan di tempat tersebut serta dibuatkan tempat suci yang disebut kramat, sesuai dengan permintaan beliau menjelang dibunuh. Untuk merawat makam kramat tersebut, ditunjuklah Gede Sedahan Gelogor yang saat itu menjadi kepala urusan istana di Puri Pemecutan.

Versi lain mengatakan Jika kematian putri raja adalah akibat tebasan pedang milik patih kerajaan saat melihat Siti Kahotijah sedang melaksanakan sholat. Peristiwa pembunuhan terjadi akibat kesalahpahaman di antara patih dan pengawal tentang maraknya ajaran 'pengleakan' yang bertujuan untuk memiliki ilmu hitam yang akan ditujukan kepada lawannya.

Bagian III: Misteri Pohon 'Taru Rambut' di tengah makam

Setelah sang putri meninggal, maka sesuai wasiat sang putri menjelang kematiannya, yaitu agar apabila tubuhnya mengeluarkan asap yang berbau harum, agar dibuatkan tempat suci (keramat) untuk memakamkannya, maka dibuatkan tempat suci yang disebut kramat bagi sang putri. Untuk merawat makam kramat tersebut, ditunjuklah Gede Sedahan Gelogor yang saat itu menjadi kepala urusan istana di Puri Pemecutan.

Pada suatu hari, dari makam Raden Ayu tumbuh sebuah pohon yang tingginya siktar 50 cm tepat di tengah-tengah kuburan tersebut. Pohon tersebut membuat kuburan engkag atau berbelah. Pohon tersebut dicabut oleh Sedahan Moning, istri dari sedahan Gelogor. Ajaibnya, setiapkali dibersihkan (dicabut) pohon itu kembali tumbuh dan terus membesar. Melihat keganjilan itu, akhirnya penjaga makan Gede Sedahan Gelogor dan istrinya membiarkan pohon itu tumbuh. Menurut penjaga makam yang sekaligus Kepala Istana Kerajaan, saat ia dan istrinya Sedahan Moning sedang besemadi di hadapan makam tersebut, ia diperintahkan atas wasiat Siti Khotijah agar merawat pohon itu sebagai bukti bahwa Siti Khotijah atau Raden Ayun Pamecutan atau Gusti Ayu Made Rai bukanlah orang sembarangan. Pohon tersebut konon tumbuh dari rambut Raden Ayu yang semasa hidupnya memiliki rambut hitam panjang. Sampai sekarang pohon tersebut tumbuh tepat di atas makam tersebut dan disebut 'Taru rambut'. Kini pohon Kepuk itu tumbuh besar dan telah mencapai tinggi 16 meter dan sangat disakralkan oleh warga. Penerus juru kunci, Jero Mangku I Made puger mengakui sering terjadi hal-hal di luar akal sehat selama menjaga makam Keramat Agung Pamecutan. Contoh yang sering terjadi ialah ranting dan dahan pohon sering berjatuhan namun tak pernah menyentuh atap makam. "...ranting atau dahan phon itu hanya berjatuhan di sebelah makam. Seperti ada yang melempar ke sebelah makam...", tutur Jero Mangku.

Konon versi lain terkait kepuk yang tumbuh besar tepat di tengah makam Siti Khotijah merupakan jelmaan sisir atau pendok atau tusuk konde yang dikenakan Siti Khotijah. Pendok itu, atas karomah yang diberikan Allah SWT, berubah wujud menjadi pohon keramat. Keberadaan pohon itu membuktikan bahwa Siti Khotijah atau Raden Ayu Pamecutan memiliki karomah melebihi manusia biasa.

Adapun sebagai bentuk pertanggung jawaban Raja kepada 40 orang pengiring Raden Ayu, Raja memberikan tempat bermukim di daerah Kepaon. Kini kampung Islam Kepaon berkembang pesat dan pewaris Raja Pamecutan selalu hadir pada perayaan hari besar islam. Kehadiran keluarga besar Puri Pamecutan sebagai bukti bahwa antara saudara islam kampung Islam Kepaon dengan Puri Pamecutan terjalin ikatan dari pernikahan putri raja badung Gusti Ayu Made Rai (Siti Khotijah atau Raden Ayu Pamecutan) dengan Raja Madura, Cakraningrat IV. Bahkan penguasa Puri Pamecutan, Raja Cokorda Pamecutan IX, SH mengakui bahwa kampung Islam Kepaon merupakan saudara berdasarkan perkawinan keturunan Raja Pemecutan dengan Raja madura, Cakraningrat IV.

Mengenai aci atau upacara yang dipersembahkan di makam kramat tersebut, bahwa odalannya (pujawali) jatuh pada Redite (Minggu) Wuku Pujut, sebagai peringatan hari kelahiran beliau (otonan). Persembahan (sesaji) yang dihaturkan adalah mengikuti cara kejawen yakni tumpeng putih kuning, jajan, buah-buahan, lauk pauk, tanpa daging babi.

Saat ini, Makam Keramat Agung Pamecutan telah mengalami renovasi serta diperluas menjadi 400 m2. Sampai kini, kunjungan peziarah dari berbagai daerah di Jawa, khususnya Madura sangat ramai. Demikian pula dengan warga Hindu banyak yang datang kesana.
Jumlah Penyuluh Agama Hindu di Indonesia Masih Sangat Kurang

On 13.55 with No comments


Umat Hindu Indonesia berasal dari berbagai suku dengan tradisi dan tatacara pelaksanaan upacara keagamaan yang beraneka ragam tersebar di seluruh wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Namun demikian, adanya keberagaman tradisi dan tata cara kegamaan Hindu tersebut tidak menimbulkan permasalahan bahkan menjadi sebuah mozaik yang indah karena pada dasarnya ajaran Hindu memiliki esensi yang sama yaitu Panca Sradha. Panca Sradha merupakan inti ajaran agama Hindu yakni meyakini adanya Brahman (Tuhan Yang Maha Esa), Atman (sinar suci Tuhan yang menghidupkan semua makhluk hidup), Karmaphala (hukum sebab akibat), Samsara/Punarbhawa (kelahiran kembali) dan Moksa (bersatunya kembali Atman dengan Brahman).


Jumlah Penyuluh Agama Hindu di Indonesia Masih Sangat Kurang
Pembimas Hindu Maluku sedang Melakukan Penyuluhan

Umat Hindu di Indonesia menyebar secara sporadis dan sebagian besar berdomisili di pedesaan bahkan sampai di pedalaman yang sulit dijangkau. Kondisi tersebut menyebabkan umat Hindu khususnya yang berdomisili di daerah pedalaman memiliki hambatan dan tantangan yang lebih besar dalam memperoleh pembinaan, bimbingan, dan penyuluhan agama Hindu. Hal ini sebagai akibat masih sulitnya akses dan jauhnya jarak dari kota provinsi.

Hambatan geografis tersebut, ditambah dengan masih sangat kurangnya penyuluh dengan kompetensi yang memadai, mengingat jumlah Penyuluh Agama Hindu yang berstatus PNS yang amat terbatas. Data dari Kementerian Agama, pada tahun 2017 jumlah Penyuluh Agama Hindu PNS di seluruh Indonesia hanya 158 orang dan jumlah Penyuluh Agama Hindu Non PNS yang diangkat sekitar 1000 an orang. Jumlah tersebut tentunya jauh dari jumlah ideal kebutuhan jumlah penyuluh agama Hindu bagi umat Hindu di Indonesia yang berjumlah 10 jutaan jiwa. Dimana idealnya 1 penyuluh membina sekitar 300 an umat.

Untuk menjawab hambatan tersebut, maka diperlukan lebih banyak Penyuluh Agama Hindu Non PNS yang bertugas memberikan bimbingan dan penyuluhan agama Hindu yang disebar merata sesuai kebutuhan per wilayah. Di samping itu, Penyuluh Agama Hindu Non PNS juga berfungsi sebagai tempat bertanya dan berkonsultasi tentang berbagai aspek agama Hindu termasuk peri kehidupan umat Hindu. Dengan demikian, seorang Penyuluh Agama Hindu Non PNS memiliki peran sangat penting sebagai salah satu ujung tombak pembinaan demi kemajuan umat Hindu yang merupakan bagian integral bangsa Indonesia.

Secara spiritual, Penyuluh Agama Hindu (baik PNS maupun Non PNS) memikul tugas mulia sebagai penyebar pesan suci Weda sebagaimana dinyatakan dalam Yajur Weda XXVI.2:

“Yadhemam vacam kalyanim avadani janebyah,

Brahma rajanyabhyam sudraya caryaya ca swaya caranaya ca“

Artinya :

Sampaikan kata-kata suci ini kepada seluruh umat manusia, baik kepada Brahmana, Ksatriya, Wesya maupun Sudra, kepada bangsa-Ku sendiri dan kepada bangsa-bangsa asing.

Sloka tersebut menyatakan dengan jelas dan tegas, bahwa pembinaan, bimbingan, dan penyuluhan yang dilakukan oleh seorang Penyuluh Agama Hindu mesti diberikan kepada seluruh umat Hindu khususnya dan umat manusia pada umumnya, sehingga terwujud suatu kehidupan yang harmonis berdasarkan tujuan agama Hindu yaitu Moksartham Jagadhita Ya Ca Iti Dharma.

Penyuluh Agama Hindu wajib memberikan pembinaan, bimbingan, dan penyuluhan kepada umat Hindu secara maksimal,dengan mengedepankan sikap nasionalis, menjunjung etika dan profesional, memiliki semangat pengabdian yang tinggi, disiplin, kreatif, terampil, berbudi pekerti yang luhur serta bertanggungjawab.

Harapan besar umat Hindu untuk mendapatkan pembinaan tentunya menjadi PR besar bagi Ditjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI dan PHDI Pusat yang mempunyai tugas dan fungsi memberikan pembinaan dan pelayanan agama Hindu. Perlu terobosan dan dan kerjasama yang sinergi dalam bersama - sama mengupayakan penambahan jumlah Penyuluh PNS maupun Non PNS hingga mendekati kondisi ideal. Dengan demikian umat Hindu dimanapun berada bisa merasakan kehadiran negara dan majelis umat tertingginya dalam rangka meningkatkan kualitas sradha dan bhakti umat Hindu.
Peran Strategis Bhagawadgita dalam Membangun Kerukunan

On 11.03 with No comments


Berita Hindu Indonesia: Bhagawadgita sebagai Pancama Weda mempunyai peran yang strategis apabila didalami, diresapi dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari – hari oleh umat Hindu. Universalitas ajaran yang terkandung di dalam Bhagawadgita seharusnya bisa dan mampu membimbing arah berpikir positif bagi siapapun yang membacanya. Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, memaknai dan mengimplementasikan ajaran yang ada dalam Bhagawadgita ini dapat dikatakan sebagai sumbangsih nyata umat Hindu dalam mewujudkan kekayaan bangsa melalui keberagaman agama, seni dan budaya. Ini semua adalah aset bangsa yang tak ternilai harganya. Di sisi lain, ajaran Bhagawadgita ini juga sangat bermakna untuk menggambarkan betapa kerukunan, kebersamaan dan rasa persaudaraan tanpa batas atau Tat Twam Asi di antara sesama umat Hindu.


Peran Strategis Bhagawadgita dalam Membangun Kerukunan


Memaknai Bhagawadgita ini semestinya tidak berhenti untuk memperkokoh persatuan intern umat Hindu namun juga diwujud-nyatakan dalam kerangka membangun sikap hidup dengan saling menghargai dan menghormati yang pada gilirannya bermuara pada bagaimana terpeliharanya kerukunan yang hakiki dengan saudara-saudara umat beragama lainnya. Dalam hemat saya, meskipun bangsa Indonesia sangat majemuk dengan berhiaskan suku, agama, adat-istiadat dan budaya yang beraneka ragam, namun sebagai satu bangsa dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), haruslah tetap dijaga keutuhannya. Itulah zamrud khatulistiwa yang harus membuat semua orang yang berada di dalamnya selalu bangga sebagai bangsa Indonesia, termasuk umat Hindu.

Dengan memiliki kesadaran seperti ini, umat Hindu bersama-sama dengan umat lainnya, akan terus diajak untuk menjadikan keberagaman sebagai satu nilai yang selama berabad-abad telah menjadi rahmat dan menjadi ruh yang menjiwai kebhinekaan yang tumbuh di atas bumi pertiwi Indonesia. Menegakkan pilar-pilar kerukunan yang teraktualisasikan ke dalam berbagai bentuk, termasuk bagaimana kita bisa hidup berdampingan dengan orang yang berbeda iman sekalipun, menghormati hari-hari besar agama lain, menjamin kebebasan beribadat, tidak mudah terprovokasi untuk diadu domba dengan umat lain adalah cara yang telah diwariskan para leluhur dan pendiri bangsa di masa lalu, bahkan jauh sebelum bangsa ini merdeka. 

Semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang tersemat di kaki burung garuda menjadi satu dari sekian banyak fakta bahwa Indonesia adalah bangsa yang member tempat istimewa untuk tumbuh dan berkembangnya berbagai kekayaan suku, agama, bahasa, seni, budaya, dan adat istiadat. Ini semua bukanlah imajinasi tetapi sebuah fakta yang tak terbantahkan. Bhagawadgita yang diyakini oleh umat Hindu sebagai Pancama Weda atau Weda kelima adalah salah satu kitab suci yang mengandung ajaran filsafat dan etika yang sangat dalam. Beberapa di antara sloka-sloka yang terdapat di dalamnya juga berdimensi universal. Dialog istimewa antara Sri Krisna dengan Arjuna yang terangkum dalam Bhagawadgita telah melampui batas-batas spasial manusia. Dialog itu terasakan hidup melintasi berbagai generasi. Dan Dan umat Hindu membangkitkan kembali nilai-nilai kebenaran universal itu. 

Karena universalitasnya itulah, kitab suci Bhagawadgita tidak saja dibaca secara tekstual tetapi harus tetap dipraktekkan secara kontekstual, sejalan dengan tuntutan zaman. Hanya dengan cara seperti inilah, umat Hindu akan terus dapat beradaptasi dengan tantangan kehidupan namun tidak keluar dari ruh kitab suci. Universalitas Bhagawadgita juga memungkinkan umat Hindu dapat hidup secara inter-religius dengan umat beragama lainnya, sekaligus menginternalisasikannya dalam kehidupan. Dengan mendalami Bhagawadgita secara khusus mengumandangkan kembali ajaran filsafat dan etika Hindu yang akan melahirkan insan-insan yang humanis dan religius.
Tata Cara Pendaftaran Lembaga Pasraman Formal & Non Formal

On 11.01 with No comments

Berita Hindu Indonesia -  Ditjen Bimas Hindu Kementerian Agama Hindu RI membuka pintu pendirian Pasraman Formal dan non Formal. Umat Hindu di seluruh Indonesia bisa mengajukan permohonan pendirian dan operasional Pasraman Formal dan Non Formal. Namun demikian sebelum melangkah ke permohonan izin pendirian dan operasional, maka sesuai Surat Dirjen Bimas Hindu nomor : DJ.V/Dt.V.I/BA.00/526.a/2016 tentang Pendaftaran Lembaga di seluruh Indonesia, maka semua Lembaga Pasraman wajib hukumnya didaftarkan lembaganya terlebih dahulu untuk mendapatkan Tanda Daftar Yayasan/Lembaga dan selanjutnya baru dimohonkan izin pendirian dan operasional Pasraman Formal dan Non Formal. Dalam izin pendirian dan operasional tersebut akan diberikan Nomor Statistik Pasraman (NSP). yang dikeluarkan dari Ditjen Bimas Hindu Kementerian Agama Hindu RI.

Tata Cara Pendaftaran Lembaga Pasraman Formal & Non Formal


Adapun Persyaratan Pendaftaran Lembaga dan Permohonan Izin Pendirian dan Operasional Pasraman Formal maupun non Formal adalah sebagai berikut :
  1. Surat Permohonan Kepada Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI
  2. Rekomendasi Pembimas Hindu 
  3. SK Yayasan 
  4. ADRT Yayasan dan SK Menteri Hukum dan HAM.
  5. Surat Pernyataan Yayasan
  6. Surat Penguasaan Tanah atau Pernyataan Guna Pakai Gedung/Tanah
  7. Susunan Pengurus Lembaga
  8. Profil Pasraman
  9. Domisili Pasraman
  10. Susunan Kurikulum
  11. Alamat Sekretariat, Telepon dan Email
  12. Pas Foto Ketua Ukuran 4x6 (berwarna)
  13. Foto Copy KTP Ketua, Sekretaris dan Bendahara
  14. Data Siswa Pasraman
Proses pendaftaran adalah sebagai berikut:

  1. Setelah lembaga memiliki Tanda Daftar Yayasan/Lembaga dari Ditjen Bimas Hindu, maka pemohon izin bisa mengajukan proposal pendirian dan operasioanal Pasraman Formal dan Non Formal yang ditujukan ke Dirjen Bimas Hindu kementerian Agama RI.
  2. Proposal masuk akan diverivikasi dan selanjutnya bagi yang memenuhi syarat administratif akan dilakukan visitasi ke lokasi.
  3. Hasil visitasi akan menentukan layak atau tidaknya diterbitkan Izin pendirian dan Operasional Pasraman.
Pasraman Formal terdiri dari tingkat Pratama Widya Pasraman (PAUD/TK), Adi Widya Pasraman (SD), Madyama Widya pasraman (SMP, Utama Widya Pasraman (SMA) dan Maha Widya pasraman (Universitas). Sedangkan Pasraman Non Formal bisa berbentuk Pesantian, Sad Dharma dan lain sebaganya.




Pesantian Festival Seni Geguntangan 2016 Se-Jabodetabek

On 10.37 with No comments

Berita Hindu Indonesia - Hari minggu, Tanggal 27 November 2016, yang lalu pkl. 08: 30 WIB s/d selesai yang bertempat di: Wantilan Pura Agung Wira Dharma Samudera- Komplek Marinir Cilandak – Jakarta Selatan. Hal ini dipayungi oleh Parisadha Hindu Dharma Indonesia – DKI Jakarta Dalam Acara Festival Seni Pesantian & Geguntangan 2016 se Jabodetabek dan yang sebagai penanngung jawab adalah Kombes Pol (Purn) I Ketut Wiardana SH.

Mahasiswa Stah Dharma Nusantara Jakarta
GeguntanganAcara ini spesial dihadiri oleh Dr. Sumarsono MDM selaku Plt. Gubernur DKI Jakarta. Adapun uraian acara diawali dengan Registrasi peserta festival dan penyambutan umat, Penyambutan tamu Undang VIP, Penyambutan bapak Plt. Gubernur DKI Jakarta, Pembukaan acara, Laporan Penyelenggaraan acara, Sambutan dari ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia Pusat, Sambutan dari Tokoh Umat Hindu, Sambutan dari bapak Plt. Gubernur DKI Jakarta sekaligus membuka acara Festival Seni Pesantian & Geguntangan 2016 DKI & Bodetabek, Pembacaan doa, Dewan Juri memasuki meja penjurian & pembacaan peraturan lomba, Lomba tahap I : Nomor Peserta 1 s/d 6, Puja Tri Sandya & Istirahat Makan Siang, Lomba Tahap II : Penetapan Pemenang & Penyerahan Trophy.

Peserta ada 14 seke Pesantian Seluruh Jabodetabek
  1. Pesantian Amrta Jati Cinere,
  2. Wahana Bakti Cibubur A dan B,
  3. Dharma Kerti Jakarta Utara A dan B,
  4. Mustika Dharma Cijantung,
  5. Wira Dharma TMII,
  6. Jnana Mukti Bokor Mad Depok,
  7. Pesantian Gita Shanti STAH DN Jakarta,
  8. Gita Shanti Bhuana Jakarta Pusat,
  9. Gita Paksi Chandra Prabha Jelambar,
  10. Pesantian Pura Aditya Jaya Rawamangun.


Pesantian Gita Shanti Sekolah Tinggi Agama Hindu Dharma Nusantara Jakarta mendapatkan Juara yakni:
  1. Penembang Putri Juara 3 atas nama Wayan Ike Dewiyanti
  2. Peneges Putri Juara 3 atas nama Ida Ayu Putu Nopi Anggraini
  3. Penembang Putr Juara Harapan 3 atas nama Wayan Tantre Awiyane
  4. Peneges Putra Juara Harapan 3 atas nama I Made Mertayasa


Semoga dengan Adanya Pelaksanaan Festival Seni Pesantian & Geguntangan 2016 DKI & Jodetabek, ini mampu menjadi salah satu sarana dalam mempertahankan serta pelestarian Adat dan Budaya Khususnya Budaya Bali menjadi pemupuk rasa cinta akan adat dan budaya serta menjadi momentum Peningkatan Sradha dan Bakthi kita bersama sebagai Umat Hindu.


Sumber : I Wayan Tantre
Pasraman Dhewi Saraswati yang Penuh Prestasi

On 09.29 with No comments

Berita Hindu Indonesia - Pasraman Dhewi Saraswati Lampung Tengah benar - benar memukau. Sesuai namanya Pasraman Dhewi Saraswati yang berdomisili di Jalan Nusa Indah, Sanggar Buana memberi inspirasi pada masyarakat di Kecamatan Seputih Banyak, Lampung Tengah. Mulai siswa SD, SMP, SMA di lingkungan tersebut selama ini mendapat pembinaan dari I Wayan Sadra, S.Pd. MM, seorang PNS dan aktif sebagai Guru pengajar di SMAN 1 Lumbia Lampung Tengah. Berbagai kegiatan rutin dilaksnakan di Pasraman ini setiap Jumat, Sabtu dan Minggu dan dibina oleh 4 Guru Pasraman, yaitu Bapak I Komang Suteja, S.Pd.H. Ibu Ni Dhewi Ratih, S.Pd.H, Ibu Komang Mei, S.Pd.H dan Ibu Komang Sukanasih, S.P.d.


Pasraman Dhewi Saraswati
Usia Pasraman belum genap dua tahun berjalan, Namun Pasraman Dhewi Saraswati ini telah meraih segudang prestasi. Diantaranya, Siswa Pasraman ini meraih juara umum dalam lomba cerdas cermat dan tari di Bulan maret 2016 yang diadakan UNILA. Tidak hanya itu di bulan April 2016, Lenggak lenggok dua penari dari Pasraman Dhewi Saraswati tampak lincah dan gemulai menampilkan tari Merak Angelo dalam Parade Budaya yang digelar Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Perhimpunan Mahasiswa Hindu (Permadu) di Institut Informatika dan Bisnis (IBI) Darmajaya,. Kekompakan dan keserasian yang tampil para sisya dari Pasraman Dhewi Saraswati mampu memukau para dewan juri dan penonton. Tari Merak Angelo akhirnya membawa Pasraman Dhewi Saraswati sebagai juara I lomba tari Bali dalam kompetisi tersebut. Juara Satu pun diraih Sisya Pasraman Dhewi Saraswati dalam ajang UDG (Utsawa Fharma Gita) tingkat Kabupaten Lampung Tengah dalam jenis perlombaan Dharma Wacana dan lomba Pembacaan Sloka. Berbagai event di tingkat Nasional kedepanya akan diikuti oleh Pasraman ini, seperti dalam ajang UDG tingkat provinsi dan Nasional yang jatuh di tahun 2017.

"Pasraman Dhewi Saraswati berdiri di bawah naungan Parisada Hindu Dharma Indonesia Provinsi Lampung dan juga binaan Ditjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI. Sebagai dasar pemikiran kami, selama ini masih banyak generasi muda Hindu di wilayah kami haus akan pengetahuan dan membutuhkan banyak buku sebagai bahan bacan dan media untuk memahami ajaran agama Hindu. Maka kami mencari cara untuk menyelamatkan masa depan umat Hindu. Ini menjadi keprihatinan kita bersama." Ungkap I Wayan Sadra, S.Pd.MM.

Seperti tercantum dalam sloka 27 Kitab Sarasamuscaya, menyebutkan dalam terjemahnya, " Bagaikan keberadaan ilalang muda yang tajam, akan tidak tajam lagi masa tuanya. Demikianlah hendaknya kebajikan / kebenaran, harta dan ilmu pengetahuan itu dikejar sedini mungkin, pada masa muda yang sehat. "Sloka ini mengisaratkan kita selalu semangat, pantang menyerah untuk belajar dan mengisi diri di usia remaja. Ia berharap melalui Pasraman ini, generasi muda termotivasi untuk berprestasi, melestarikan budaya Indonesia tanpa meninggalkan ajaran Hindu, menghargai keberagaman dan tetap menjaga nilai saling toleransi anatara umat beragama.


Sumber : Pasraman Dhewi Saraswati (miak)
Filosofi Makna Mecaru (Tawur Agung)

On 11.02 with No comments

Berita Hindu Indonesia - Caru adalah korban suci yaitu upacara yadnya yang bertujuan untuk keseimbangan para bhuta sebagai kekuatan bhuwana alit maupun bhuwana agung sebagaimana disebutkan dalam kanda pat butha seningga dengan adanya keseimbangan tersebut berguna bagi kehidupan ini. caru yang dalam sejarahnya disebutkan diawali dari terjadinya kekacauan alam semesta yang mengganggu ketentraman hidup sebagai akibat dari godaan-godoaan bhuta kala, sehingga Hyang Widhi Wasa menurunkan Hyang Tri Murti untuk membantu manusia agar bisa menetralisisir dan selamat dari godaan-godaan para bhuta kala itu sehingga mulailah timbul banten "Caru" sebagaimana disebutkan dalam mitologi caru ini.


Makna Mecaru (Tawur Agung)
Dan dijelaskan pula bahwa, Caru (Mecaru, Pecaruan, Tawur) sebagai upacara yadnya yang bertujuan untuk keharmonisan bhuwana agung (alam semesta) dan bhuwana alit agar menjadi baik, indah, lestari sebagian dari upacara Butha Yadnya, Dengan demikian, upacara mecarau adalah aplikasi dari filosofi Tri Hita Karana, seperti yang disebutkan dalam lontar Pakem Gama Tirta, agar terjadi keharmonisan. upacara pecaruan ada yang dilakukan dalam bentuk kecil sehari-hari, disebut Nitya Karma, sedangkan upacara pecaruan disaat tertentu (biasanya lebih besar) disebut Naimitika Karma. Jenis- jenis Caru dan Tawur : Caru Pelemahan Bumi Sudha berfungsi untuk mengharmaniskan sebuah tempat. Dalam Lontar Dewa Tattwa membedakan jenis-jenis Caru dan Tawur sebagai berikut :Yang diadakan bila ada kejadian tertentu misalnya : bencana, bencana alam , hama penyakit, gerhana matahari, huru-hara, perang, dll..
  1. Yang diadakan : sehari-hari, hari tertentu sasih (bulan) tertentu, dan warsa (tahun) tetentu.
  2. Yang diadakan suatu tempat : pekarangan, rumah, pura, sanggah, banjar, Desa Adat, seluruh pulau (Bali), seluruh dunia, danau, laut, hutan, gunung, dll.
  3. Mengikuti upacara pokok Panca Yadnya.
Dalam Lontar Dewa Tattwa dibedakan pula anatar Caru dan Tawur.
Yang termasuk Caru :
  • Eka Sata,
  • Segehan Panca / Manca Warna,
  • Panca Sata, kestabilan 5 arah mata angin
  • Panca Sanak, disamping untuk memohon kehadapan Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa) agar beliau memberi kekuatan lahir batin 
             Panca nak-madurga
  • Ngeresigana (Resi Gana)
  • Catur Dewasa
             dengan dilengkapi tetandingan banten pamarisudha mala dewasa untuk menetralisir pengaruh                         pedewasaan yang buruk

Yang termasuk Tawur :
  • Mnaca Kelud, berfungsi untuk ngelinggihang dewa di parhyangan,
  • Balik Sumpah,
  • Tawur Gentuh,
  • Panca wali krama,
  • Eka Bhuwana,
  • Tri Bhuwana,
  • Eka Dasa Rudra
  • dll
Semua beburon / hewan sebelum diupacarai dimandikan terlebih dahulu kemudian dikenakan kain menurut warna pengider-ider disertai kalungan uang kepeng manut urip. Alat-alat yang ikut diupacarai : blakas, golok, taledan, lumpyan, pane, lesung, tungku, talengan, payuk, ilih, siut, sendok, katikan sate, cubek, juga disertai lakar base genep. Penggunaan hewan dalam Varu dan Tawur (Lontar Sudamala dan Lontar Kala Tattwa)
  •  Ayam manca warna, masing-masing untuk : putih-Bhuta Janggitan, biying Bhuta Langsir, siungan-    Bhuta Lembu kunia, hitam-Bhuta Taruna, brunbun-Bhuta Tiga Sakti
  • Ayam biying kuning, untuk Bhuta Jingga
  • Ayam ijo, untuk Bregala-Bregali Ireng
  • Ayam ijo, untuk Bhuta Ijo
  • Ayam Klawu, untuk Bhuta 
  • Ayam wangkas, untuk Bhuta Lambukan
  • Angsa putih, untuk Korsika
  • Asu bang bungkem, untuk Bhuta Hulu Kuda
  • Banteng, untuk Bhuta Ijo
  • Bawi palen,untuk Mahakala
  • Bebek belang kalung, untuk Panca Mahabhuta
  • Bebek bulu sikep, untuk Bhuta Lambukan
  • Godel, untuk: Gargha, Kapragan, Mrajapati.
  • Kambing coklat/kuning, untuk Maitri, Kamala-Kamali, Kala Sweta, Banaspati
  • Kambing coklat, untuk Bhuta Jingga
  • Kambing selem, untuk Kurusya, Banaspati Raja
  • Kambing sewarna, untuk tapakan Bhatara Di Sanggah Tawang
  • Kebo yusmerana, untuk Bhuta Ireng
  • Kidang, untuk Kalika-Kaliki, Yaksa-Yaksi, Dengen, Anggapati
  • Manjangan, untuk Bhuta Ijo
  • Penyu (punggalan), sampelan kebo, sampelan kambing, untuk pelengkap catur niri
  • (Tanda bintang artinya ada Bhuta yang sama memerlukan beberapa binatang kurban untuk di-“somya”)
Olahan hewan (beburon) menurut Lontar Dharma Caruban sebagai tuntunan ngebat.
  •  Kinelet melayang-layang: kepala, kaki, ekor, dan kulit utuh.
  • Winangun urip: letak hewan tertelungkup dan ada unsur-unsur tulang rusuk, tulang punggung, tulang kaki dan tulang ekor.
  • Urab/Reramesan barak dan putih: berisi daging, lidah, hati, lemak, kulit, darah (kalau reramesan barak) Getih matah: darah segar yang ditampung di sebuah kau ketika menyembelih hewan, diiisi lontar nama hewannya.
  • Sate (jejatah) lembat, asem, dan calon disebut Trinayaka sebagai persembahan tubuh hewan termasuk dengan aksara suci Ang – Ung – Mang.
  • Gayah: punggalan bawi, winangun urip, mejatah katikan senjata Dewata Nawa Sanga, ditambah mejatah katikan-katikan: bagia, orti, surya candra, tunjung, cempaka, pidpid, sapudaki, konta, japit dumi, oret-oret, satuh, don, jerimpen, ancak, penyeneng, sandat, endongan, satuh, bingin.
Bahan-bahan Upakara dalam Pecaruan
(Lontar Sudamala)
Bahan-bahan upakara dalam pecaruan terdiri dari tiga jenis:
  • Mataya; bahan dari tumbuh-tumbuhan: daun, bunga, buah, pohon, biji-bijian, umbi-umbian, arak berem, tuak.
  • Mantiga; hewan yang lahir dua kali (melalui telur): ayam, bebek, angsa, burung.
  • Maharya; hewan yang lahir satu kali (tidak melalui telur) dan berkaki empat: babi, sapi, kerbau, kambing, anjing.
  • Penempatan warna bulu hewan caru mengacu pada kedudukan Panca Korsika dan Bhuta, disesuaikan dengan warna bulu hewan itu. Hal ini juga disebutkan dalam ephos Mahabharata, ketika Dewi Kunti hendak mengorbankan Sahadewa untuk “nyupat” Panca Korsika.

Penempatan warna bulu hewan caru mengacu pada kedudukan Panca Korsika dan Bhuta, disesuaikan dengan warna bulu hewan itu. Hal ini juga disebutkan dalam ephos Mahabharata, ketika Dewi Kunti hendak mengorbankan Sahadewa untuk “nyupat” Panca Korsika.

Makna simbol warna dalam Upacara Pecaruan (Lontar Dewa Tattwa)
Warna-warna: bulu hewan, kober, tumpeng, kelungah, dangsil, sanganan, nasi, beras, bunga, benang, dll mengikuti warna pengider:

  • Sweta (putih)
  • Dumbra (merah muda)
  • Rakta (merah)
  • Rajata (oranye)
  • Pita (kuning)
  • Syama (hijau)
  • Kresna (hitam)
  • Biru (abu-abu)
  • Sarwa suwarna (campuran)

Warna-warna itu selain sebagai identitas para dewa yang menjaga keseimbangan, juga sebagai simbol berbagai sifat yang ada dalam diri manusia:

  •  Putih: suci
  • Merah-muda: kesucian yang ternoda oleh kemarahan.
  • Merah : marah;
  • Oranye: marah karena nafsu tak terpenuhi;
  • Kuning: nafsu;
  • Hijau: serakah;
  • Hitam: iri-hati;
  • Abu-abu: iri-hati yang terselubung.
Dari 9 warna yang ada, hanya 1 (warna putih) sebagai simbol sifat baik yang bisa dikalahkan oleh warna lain simbul keburukan.Oleh karena itu warna putih dibanyakkan dengan tepung beras yang dirajah pada banten Rsi Gana. Dengan demikian sifat-sifat buruk asubha karma manusia diusahakan di-”somiya” melalui pecaruan sehingga Asuri Sampad (sifat keraksasaan) dapat berubah menjadi Daiwi Sampad (sifat kedewataan)Urip Wewaran pada caru dan tawur

(Lontar Warigha Bhagawan Gargha)Penggunaan urip wewaran / neptu pada caru yang dasarnya panca wara, karena sesuai dengan mitologi panca korsika, yakni: :
  • Umanis urip 5 di timur,
  • Paing urip 9 di selan
  • Pon urip 7 di barat
  • Wage urip 4 di utara,
  • dan Kliwon urip 8 di tengah.
Jumlah urip panca wara = 33 juga sesuai dengan jumlah Dewa menurut Satha Pata Brahmana dimana para Dewa diyakini berperan menjaga keselamatan bhuwana agung.Penggunaan urip pada tawur pada dasarnya membentuk padma bhuwana (lingkup bhuwana agung menurut pengider-ider) maka digunakan asta wara, dimana urip panca wara diatas ditambah dengan:

  • Guru urip 8 di tenggara
  • Rudra urip 3 di barat daya,
  • Kala urip 1 di barat laut
  • dan Sri urip 6 di timur laut.
Jumlahnya = 18 dimana secara matematis total digit: 1 + 8 = 9 (jumlah pengider-ider dewata nawa sanggha) Urip Wewaran tersebut digunakan dalam banten caru / tawur untuk antara lain jumlah :  tumpeng, reramesan, sate, tangkih, jinah, dll. Demikian dijelaskan dalam Dokumen Forum Diskusi Jaringan Hindu Nusantara.
Penggunaan binatang kurban pada caru, sebagaimana disebutkan dalam salah satu komentar forum diskusi Bhakti Manawa Wedanta, penggunaan binatang ini sangat menentukan nama dan tingkatan banten caru tersebut. Misalnya caru Eka Sata menggunakan ayam brumbun atau lima warna. Caru Panca Sata menggunakan lima ekor ayam.

Pemakaian binatang dan tumbuh-tumbuhan sebagai sarana upacara Yadnya telah disebutkan dalam Manawa Dharmasastra V.40. Tumbuh-tumbuhan dan binatang yang digunakan sebagai sarana upacara Yadnya itu akan meningkat kualitasnya dalam penjelmaan berikutnya.  Manusia yang memberikan kesempatan kepada tumbuh-tumbuhan dan hewan tersebut juga akan mendapatkan pahala yang utama. Karena setiap perbuatan yang membuat orang lain termasuk sarwa prani meningkat kualitasnya menjadi perbuatan yang sangat mulia. Perbuatan itu akan membawa orang melangkah semakin dekat dengan Tuhan.

Karena itu penggunaan binatang sebagai sarana pokok upacara banten caru bertujuan untuk meningkatkan sifat-sifat kebinatangan atau keraksasaan menuju sifat-sifat kemanusiaan terus meningkat menuju kesifat-sifat kedewaan.Dalam memaknai caru, menurut “lontar Carcaning Caru” jenis-jenis caru yang disebutkan Caru ayam berumbun ( dengan satu ekor ayam ), Caru panca sata ( caru yang menggunakan lima ekor ayam yang di sesuaikan dengan arah atau kiblat mata angin ), Caru panca kelud dengan caru yang menggunakan lima ekor ayam di tambah dengan seekor itik atau yang lain sesuai dengan kebutuhan upacara yang di lakukan, dan Caru Rsi Gana.

Banten caru berfungsi sebagai pengharmonis atau penetral buwana agung (alam semesta), di mana caru ini bisa dikaitkan dengan proses pemlaspas maupun pangenteg linggihan pada tingkatan menengah (madya). Usia caru ini 10-20 tahun, tergantung tempat upacara. Penyelenggaraan caru juga dapat dilaksanakan manakala ada kondisi kadurmanggalan dibutuhkan proses pengharmonisan dengan caru sehingga lingkungan alam kembali stabil.Berkaitan dengan penggunaan binatang dalam upacara caru / tawur ini juga sesuai dengan sastra weda khususnya juga disebutkan dalam beberapa lontar seperti Siwa Purana dan Markandhya Purana. Demikianlah caru ini disebutkan dan dilaksanakan untuk keharmonisan alam semesta ini.

Sumber: hindualukta, sejarahharirayahindu, cakepane
Sejarah dan Filosofis Genta (Bajra)

On 10.13 with No comments

Berita Hindu Indonesia - Riwayat genta menurut legenda, diawali dari suara keroncongan sapi di pegunungan Himalaya, India. Suara keroncongan sapi tersebut diyakini mampu mengantarkan permohonan para penggembala kepada para Dewa, terutama pada saat sapi sedang menggeleng-gelengkan kepalanya. Adanya kepercayaan bahwa suara keroncongan sapi ini mampu menghubungkan permohonan pengangon kepada para Dewa, maka  keroncongan sapi itu lalu disucikan dan diberi nama genta sebagai sarana untuk menghubungkan umat manusia di India dengan Ida Sanghyang Widhi.


Makna dan Filosofis Genta (Bajra)
Di Bali, riwayat genta juga hampir serupa dengan di India. Dikisahkan bahwa ketika Danghyang Nirarta atau Danghyang Dwijendra atau Pedanda Sakti Wawu Rauh mengadakan perjalanan dharmayatra keliling Bali, beliau bertemu dengan seorang pengalu (pedagang) yang sedang menuntun kuda. Pada leher kuda tersebut dikalungkan keroncongan yang suaranya sangat merdu dan indah sekali. Pendeta ini sangat kagum dengan suara keroncongan yang melingkar di leher kuda itu. Saking tertariknya beliau dengan suara keroncongan kuda tersebut, maka beliau lalu mencoba memintanya kepada pengalu. Sang pengalupun merasa sangat berbahagia memenuhi permintaan Pendeta itu. Setelah menerimanya, Pedanda Sakti Wawu Rauh lalu menyucikan keroncongan tersebut. Kemanapun beliau pergi selalu dibawanya dengan tujuan untuk meningkatkan daya batin beliau dalam usahanya untuk menyatukan diri dengan para Dewa. Keroncongan yang telah suci dan disakralkan itu kemudian dinamakan genta dan diwariskan secara turun-temurun kepada sisyanya.

Secara religius, genta dipandang sebagai senjata Dewa Iswara yang berkedudukandi arah timur, dengan aksara Sang (Sa), aksara suci pertama Dasaksara. Sebagai senjata Dewa Iswara, maka genta tersebut sangat disakralkan dan karena itu tidak boleh dipergunakan oleh sembarangan orang. Genta hanya boleh dipergunakan oleh mereka yang sudah mewinten, sudah disucikan secara niskala oleh Pendeta.

Dalam setiap upacara Yadnya, tentu sering kali didengar adanya suara genta. Boleh jadi tidak banyak orang memperhatikan apa yang dapat diharapkan dari suara genta itu. Sebenarnya yang diutamakan dari genta sebagai pengiring pujastawa adalah getaran magis spiritualnya. Sebagaimana sudah dijelaskan sura genta adalah stana Ida Sanghyang Widhi. Karena itu bunyi genta sebenarnya merupakan pertanda, bahwa Ida Sanghyang Widhi sedang berada di tengah-tengah umat.Kuat lemahnya getaran magis spiritualgenta tersebut tergantung dari tingkat kesucian dan kekuatan batin orang yang membunyikannya.


sumber: babadbali, puragunungsalak
HALA AYUNING PATEMON ( Baik Buruk dan Buruknya Sebuah Pertemuan )

On 16.06 with No comments

Berita Hindu Indonesia - Hala Ayuning Patemon atau baik dan buruknya sebuah pertemuan merupakan salah satu kunci yang harus dipegang sebelum mencari Padewasan Nganten (Hari Baik Menikah). Dengan mengetahui Hala Ayuning Patemon dari sebuah pasangan, maka dapat dicarikan solusi dengan mencarikan Padewasan yang baik untuk pernikahan pasangan tersebut.

Hala Ayuning Patemon



Bukan berarti ketika tahu bahwa Patemon dari sebuah pasangan ternyata hasilnya jelek, trus langsung memutuskan ikatan pasangan tersebut. Adapun cara untuk mengetahui atau mencari Hala Ayuning Patemon dari sebuah pasangan adalah sebagai berikut:

Gebogan (Penjumlahan) Urip palekadan (Kelahiran) yang laki ditambahkan (+) dengan gebogan (Penjumlahan) Urip palekadan (Kelahiran) yang wanita. Hasil dari penjumlahan kedua Urip Palekadan laki dan perempuan dikurangi terus dengan 16 sampai tidak bisa dikurangi lagi (jika sudah bernilai 16 atau dibawahnya).

Urip palekadan (Urip Kelahiran) adalah Saptawara + Sadwara + Pancawara. Berikut adalah nilai dari masing-masing wewaran diatas:

Saptawara:
Redite/Minggu = 5
Soma/Senin = 4
Anggara/Selasa = 3
Budha/Rabu = 7
Wrespati/Kamis = 8
Sukra/Jumat = 6
Saniscara/Sabtu = 9

Sadwara:
Tugleh = 7
Aryang = 6
Urukung = 5
Paniron = 8
Was = 9
Maulu = 3

Pancawara:
Umanis = 5
Pahing = 9
Pon = 7
Wage = 4
Kliwon = 8

Berikut dibawah adalah Hala Ayuning Patemon berdasarkan penjumlahan Urip Palekadan Laki + Perempuan dan dikurangi terus 16. Sisa dari proses diatas akan menunjukan hasil seperti dibawah:

Jika sisanya adalah:
1 = Madia, Suka - Duka (Standar).
2 = Kawon, Lara - Miskin (Jelek).
3 = Kawon, Lara, Wirang, Sering metungkas (Jelek).
4 = kawon, Pianake Mati (Jelek).
5 = Becik Pisan, Sudha Nulus Pinih Becik (Sangat Bagus).
6 = Kawon, Sengsara Kesakitan (Jelek).
7 = Madia, Suka - Duka (Standar).
8 = Kawon, Lara Kepati-pati (Jelek).
9 = Kawon Pisan, Baya Kepati-pati (Sangat Jelek).
10 = Becik, Bikas Ratune Kapanggih, Berpengaruh, Pangupa Jiwa Becik (Bagus).
11 = Becik, Kepradnyan Pangupa Jiwa Becik (Bagus).
12 = Becik, kedepin Lati (Adung/Akur), Pangupa Jiwa Becik (Bagus).
13 = Becik, Tan Kirang Sandang Pangan (Bagus).
14 = Kawon, Tan Polih Keselamatan (Jelek).
15 = Kawon, Bekung/Tidak Memiliki Keturunan (Jelek).
16 = Becik, Nyama Braya Asih (Bagus).

Dari uraian diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa sisa dari penjumlahan Urip Palekadan dari Laki dan Perempuan kemudian dikurangi terus 16 yang baik adalah: 5, 10, 11, 12, 13, 16.

Sedangkan yang madia atau biasa-biasa saja adalah: 1 dan 7.

Dan yang jelek adalah: 2, 3, 4, 6, 8, 9, 14, 15.


Jika hasilnya adalah ternyata jelek janganlah berkecil hati, sebab disinilah fungsi Padewasan atau Wariga. Hasil jelek tersebut dapat disiasati dengan mencarikan Dewasa Ayu yang bertentangan dengan kejelekan patemon diatas.

klik Link : Primbon Bali Agung
Memaknai Hari Tumpek Wayang, Yang Patut Dilakukan Umat Hindu Disetiap Hari Maupun Dihari H

On 12.07 with No comments

Berita Hindu Indonesia - Mulai Minggu (25/12/2016) lalu hingga Sabtu (31/12/2016) besok merupakan Wuku Wayang. Tetua zaman dulu sering kali mengidentikkan Tumpek Wayang dengan sesuatu yang tenget.
Anak-anak dilarang berkeliaran ke luar rumah sejak sehari sebelum Tumpek Wayang (penyalukan atau kalapasa).


Yang Lahir Pada Hari Tumpek Wayang
Selain itu, mendengar Wuku Wayang, tidak bisa lepas dari pikiran tentang upacara sapuh leger.
Dikutip dari dharma wacana yang pernah disampaikan almarhum Ida Pedanda Gede Made Gunung saat masih nyeneng (hidup), di dalam lontar Kalatattwa disebutkan, bagi mereka yang lahir dalam lingkaran Wuku Wayang akan menjadi santapan (tetadahan) Kala. Sehingga bagi mereka yang lahir pada wuku itu akan melakukan upacara Penglukatan Sapuh Leger.

Arti dari kata Sapuh Leger, Sapuh artinya bersih.

Leger=ligir=habis.

Sehingga sapuh leger itu berarti membersihkan semua mala sampai ligir (keterangan Jero Mangku Ringgit).
Kutipan dari lontar Sundarigama: Sukra Wage Wayang disebut Kalapasa; masesuwuk daun pandan, berisi kapur sirih nampakdara, boleh di depan pintu masuk pekarangan rumah, segehan ah soroh, api takep, katur teken Durga Bucari.

Saniscara Kliwon (Tumpek Wayang); Puja Wali Bhatara Iswara. Banten Suci maulam itik putih, peras, ajengan, sedah woh, canang raka-raka, rantasan pasucian, katur ring Bhatara Hyang Guru. Bagi umat Hindu yang memiliki Wayang, juga di upacarai pada hari Tumpek Wayang. Bantennya sama dengan yang di atas, boleh ditambahkan lagi sesuai dengan dresta setempat. Untuk Manusia; Sesayut tumpeng agung, prayascita, panyeneng, tataban.